Dhos, Gadis Penuh Teka-Teki dan Luar Biasa

Kesendirian Tanpa Dhos



Dhos? Mungkin semua pada bertanya sosoknya. Dhos! itulah nama panggilannya. Dia selalu membuat hari semakin berwarna. Banyak warna yang diberikan olehnya. Merah yang melambangkan kemarahan, pink yang mungkin tentang kelembutan, dan putih yang seolah-olah kesucian. Intinya warna-warni seperti pelangilah.



Berbicara soal putih, rasanya tidak lagi tentang kesucian. Warna itu ternyata berubah menjadi hitam yang sangat pekat. Putih berubah menjadi hitam akibat perbuatan yang sangat salah. Namun kita bukan tuhan yang bisa menghukum salah dan benar. Kita hanya penonton yang berspekulasi subjektif berdasarkan pikiran.



Aku mengenal Dhos sekitar bulan juni 2016 kemarin. Waktu itu kami ketemu di sebuah perumahan mewah. Lantas kami berjanji akan ketemuan lagi pada hari berikutnya. Singkat cerita, kamipun selalu intens berkomunikasi.



Dhos adalah sosok yang memberikan kehidupan bagai air di lautan. Dia dapat mencengangkan ketika bersuara. Kata-katanya sangat bijaksana. Lembut tapi tidak seperti sutera. Kasar namun tidak bergerigi. Romantis tapi sedikit pesimis. Kog bisa? Ya, karena Dhos butuh sosok yang tepat dalam membimbingnya.



Sosok yang sangat tepat sekalipun masih terbantah olehnya. Rasanya seperti abu-abu jika menggambarkannya. Kita butuh beberapa hari dalam memahami sikapnya. Bukan memaksa namun itulah beberapa sifat Dhos.



Dhos selalu kasih senyuman. Sopan tapi penuh sarat. Nakal namun teratur. Artinya bisa membuat rasa penat hilang. Terkadang kata-kata manja juga terlontar dari bibir padinya. Dhos selalu menawarkan apa yang tidak pernah ditawarkan sosok lain. Dia memiliki gebrakan baru yang berbeda dengan lainnya.



Ketika hujan turun, Dhos selalu membuat hangat. Tidak ada yang bisa menyejukan hati kecuali Dhos. Secangkir kopi juga disediakan olehnya. Dan itupun terkalahkan karena sosoknya yang sangat cerdas.



Hari-hari selalu indah bersama Dhos. Terkadang jika sempat, kami makan siang bersama. Tidak terlewatkan sejak ketemu, kami sering makan malam. Candle light dinner saja masih kami kalahkan. Itu semua karena kehadiran Dhos.


Sejak bersama ku, Dhos pernah medapatkan kenalan baru. Namun dibelakangku, dia setia untuk membela ku. Bahkan sampai-sampai kenalan baru itu selalu mencari tau tentang diriku.


Kenalan baru Dhos selalu cemburu jika aku kirim pesan pada Dhos. Saat aku telepon, kenalan barunya itu terus menggunjingku. Dhos cerita padaku tentang itu semua. Hal ini membuat darahku mendidih. Namun ternyata, Dhos memilihku dibandingkan kenalan barunya. Dan ini merupakan kasus pertama.



Meski membelaku pada kasus pertama, namun pertemuan kami mulai renggang sekitar akhir bulan agustus. Ternyata ada sosok lain yang dapat mengambil perhatian Dhos. Dan itu terbongkar saat aku mengintrogasinya seperti tawanan. Ini merupakan kasus yang beda. Inilah kasus kedua. Dan kenalannya itu aku sebut moster.



Dhos bercerita panjang lebar tentang monster itu saat makan malam. Ternyata Dhos sangat mencintainya. Pernah suatu hari si monster itu bermalam di rumah Dhos. Begitu juga sebaliknya. Beruntung tidak terjadi hal aneh. Namun itu tiap akhir pekan.



Dhos bercerita bahwa saat ini si monster sedang marah dengannya. Pasalnya Dhos telat untuk membalas pesan singkat si monster yang mengajak makan siang. Dhos pun merasa bersalah namun si monster terus marah dan membuatnya semakin pusing. Padahal Dhos sudah minta maaf. Jujur aku sangat senang mendengar berita itu. Aku ingin selamanya bersama Dhos. Tidak ada seorangpun yang boleh berdekatan dengan dia. Tetapi semua ini rasanya tidak akan mungkin. Dhos tidak tau tentang rasa ini.



Aku bertanya padanya di sela-sela makan malam. Jika si monster mau hubungannya tidak rusak, apakah mau kembali bersama monster?. Dengan tegas Dhos menjawab, "IYA". Spontan membuat telingaku bagai tersambar petir.



Oh ya, kami belum ada hubungan yang serius. Pernah Dhos melontarkannya, namun aku pura-pura tidak tau maksud lontaran itu. Meski demikian, hatiku merasa tertusuk duri saat Dhos berkata mau menjalin hubungan dengan monster. Rasanya sakit sekali. Aku pancing dengan pertanyaan ke dirinya. Pilih aku sebagai teman atau pilih si monster?. Dhos pun menjawab dengan mata sedih "Biasanya aku memilih teman. Namun aku kasih penjelasan terlebih dahulu padanya. Jika monster tetap tidak mengerti, aku tetap pilih monster. Karena aku sayang banget sama dia". Itulah kata-kata Dhos yang meracuni ku. Sekejap makan malam kami seperti berada di pemakaman.



Aku merasa saat itu, makan malam kami tidak seindah pada awal jumpa kemarin. Kami hanya diam, main gadget, dan tidak berapa lama aku pun mengajaknya untuk pulang.



Untuk kebaikan kami, aku memilih jaga jarak dengan Dhos. Meski berat, namun agar dia sadar dan tau bahwa pengorbanan yang pernah kami lalui akan membekas dalam hidup. Dhos  kamu sungguh egois. Tapi kalau diulang dari awal, akulah penyebab keegoisanmu. Saat kamu menyatakan kata-kata surga, aku seolah-olah bak anak lugu. Dan ketika semua sudah terjadi, aku menyesali.



Terima kasih Dhos. Kamu berhasil membuat pikiranku menjadi abu-abu.
Share on Google Plus

About bocahudik

4 komentar:

  1. Hmmm....terkadang cemburu itu perlu agar kamu dapat mengukur seberapa besar rasa itu tumbuh dalam kalbumu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi kalau dia udah jadi milik orang, apakah cemburu itu harus tetap tumbuh kak? Kan udah ga ada harapan lagi untuk bersama

      Hapus
  2. kok monster sih? jadi curiga ini cuma hayalan :)) :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita beneran kak tapi pria itu diubah menjadi monster. Jadi teringat lagi sampe sampe kemarin cari info ttg si Monster itu ke kafe La Bonde :D

      Hapus