Emak, Perjuanganmu Mengantarkan Aku Sampai Sarjana

Bocah Udik Saat Wisuda

Setiap anak pasti selalu mengklaim bahwa ibunya adalah wanita yang paling baik di dunia. Ibu adalah wanita terhebat yang dimiliki oleh kita semua. Tanpa ibu, mungkin sang anak tidak akan bisa melihat dunia, walaupun ada peran sang ayah dalam hidupnya. Bukan berarti sang ayah tidak hebat atau baik. Namun karena ibu benar-benar special dihati anaknya.


Akibat specialnya, tiap tahun ada peringatan hari ibu. Walaupun ibu begitu special dihati anaknya setiap hari meski tidak ada peringatan hari ibu sekalipun. Namun hari ibu diperingati setiap tahunnya untuk mengenang jasa dan perjuangan seorang ibu.



Bicara soal perjuangan seorang ibu, bocah udik ingat dengan perjuangan emaknya. Kalau diceritakan, ga ada habisnya sampai kapanpun. Begitu juga jika dibalas kebaikan dari emaknya. Tidak bisa terbayarkan oleh apapun. Tapi disini bocah udik akan berbagi pengalaman perjuangan emaknya yang ingin anaknya lulus kuliah.



Sejak lulus pendidikan SMA pada tahun 2008, bocah udik dicarikan pekerjaan oleh emaknya. Padahal kehidupan kami bisa dikatakan serba berkecukupan. Namun emak inginkan bocah untuk hidup mandiri. Emak tidak mau kalau bocah terlalu manja kepada orang tua, terlebih bapaknya.



Di penghujung tahun 2008, ternyata si bocah mendapatkan pekerjaan. Bocah bekerja di sebuah perusahaan kayu di daerah Kawasan Industri Medan sebagai Tally. Itu semua dari perjuangan emak karena emak yang mencari pekerjaan buat si bocah. Di tahun yang sama, bocah udik juga melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing yang ada di Medan.





Bocah Udik dan Emak Saat Wisuda



Saat kuliah, bocah udik selalu diantar dan dijemput oleh bapaknya menggunakan mobil. Hampir setiap hari si bapak menjemput putera kesayangannya itu. Kebiasaan ini sudah dilakukan sejak di bangku SMP. Si bocah udik selalu dimanjain oleh segudang fasilitas dari orang tua.



Namun, emak memberikan saran kepada bocah udik. "Kau udah kerja dan udah kuliah, kenapa mau diantar jemput terus? Belilah kereta. Kredit aja". Kata-kata itu meyakinkan bocah udik untuk hidup mandiri. Beberapa hari kemudian, bocah udik berhasil kredit motor. Tapi muncul berbagai rintangan yang dialami oleh bocah udik. Disinilah perjuangan seorang emak dimulai.



Bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan, membuat hidup bocah udik turun drastis. Bayar kreditan motor dan bayar uang kuliah dengan gaji Rp 900 ribuan perbulan. Pasti tidak cukup. Beruntung masih tinggal dengan orang tua. Orang tuanya juga tidak minta uang kepada bocah itu. Karena orang tuanya tau kalau saat itu adalah masa perjuangan si bocah untuk hidup mandiri.



Waktupun terus berdetak. Tanpa sepengetahuan orang tua, bocah udik yang ga tau diuntung ini meminjam uang kepada rentenir. Hutangnya kepada rentenir udah ada sekitar 2 tahunan. Kenapa bisa hutang? Karena si bocah ingin hidup glamour tanpa merepotkan orang tua. Jika gajian, beberapa hari kemudian ga ada lagi gaji yang tersisa. Bayar kredit motor juga telat. Apalagi bayar uang kuliah, selalu pinjam ke orang tua meski tidak dihitung hutang.



Singkatnya, saat itu bocah udik selalu malas untuk kuliah. Jika ditanya sama emak, bocah udik menjawab lagi libur. Ditambah lagi kolektor datang menagih uang kreditan. Emak semakin curiga. Ternyata emak mencium bau bocah udik. Emak cari informasi di kerjaan si bocah. Ada yang menyampaikan ke emak kalo bocah udik pinjam uang rentenir. Dari situlah puncaknya.



Waktu bocah udik pulang kuliah, emak langsung melemparkan ribuan pertanyaan. Akhirnya bocah udik mengaku kalau gajinya habis bayar ke rentenir. Bahkan bayar uang kuliah juga sering telat. Spontan si emak lemas.



Keesokan harinya, emak menawarkan untuk melunasi hutang ke rentenir. Syaratnya kalau bocah udik harus menyelesaikan tunggakan kredit motor dan biaya kuliah. Tapi bocah mikir, "Dari mana uang emak untuk bayar hutang sampe 10 juta lebih?". Si bocah cari tahu. Ternyata emak menjual perhiasannya. Itu semua dilakukan tanpa sepengetahuan bapak. Sungguh berdosanya bocah udik saat itu. Tapi akhirnya bocah udik berhasil membayar tunggakan kredit motor dan biaya kuliah.





Wisuda Bocah Udik di Salah Satu Hotel Di Medan



Permasalahan pun tidak berhenti sampai disitu. Saat mau di wisuda, ada beberapa syarat yang harus dibayar. Jika ditotali semua, jumlahnya sekitar 4 juta. Belum lagi bayar uang kuliah. Nah, kembali lagi deh ada peran emak disini. Emak minta bantuan ke saudara. Dan akhirnya semua persyaratan sudah selesai dibayarkan. Akhirnya bocah udik pun wisuda pada tahun 2012. Tepat pada peringatan hari IBU juga. Itu semua berkat perjuangan seorang emak.



Lantas kenapa emak ga minta bantuan ke bapak saat aku butuh biaya? Karena emak menginginkan bocah udik terlihat mandiri di depan bapaknya. Jujur itu salah, tapi akhirnya saat ini bocah udik bisa hidup mandiri di perantauan kog.



Sekali lagi, emaknya bocah udik adalah orang yang super hebat. Karena emak, bocah udik bisa memakan bangku pendidikan hingga sarjana. Pendidikan yang sangat tinggi di dalam keluarganya. Sarjana Sastra Inggris. Selain itu, doa emak juga selalu dijawab oleh Allah kalau bocah udik lagi dalam keadaan susah. Meski terkadang emak mau menawarkan bantuan untuk mengirim uang, tapi bocah udik hanya minta doa aja. Terima kasih emak. Engkau sungguh seperti malaikat Allah yang nyata dalam kehidupan bocah udik.







Bocah Udik Dan Emak Saat Di Kampung Halaman






Bocah Udik Dan Emak Lagi Duck Face

Share on Google Plus

About bocahudik

8 komentar:

  1. Bocahudik sekarang sudah sukses diperantauan berkat emak

    BalasHapus
  2. Sudah telpon emak hari ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah kakak.... Kalo kakak gimana?

      Hapus
  3. Alfie,,,,
    hahah entah kenapa kog kebuka pulak blog mu..
    pas aku buka soal think twice before marriege...
    ternyata si kawan..
    mantap fie... Lanjutkan!!!!

    BalasHapus