Patung Prajurit Terakota Ala Vihara Ksitigarbha Bodhisattva

Patung Seribu di Vihara Ksitigarbha Bodhisattva Tanjung Pinang




Waktu itu masih pagi. Matahari sudah menyinari bumi. Tidak terlalu dingin, namun terasa hangat. Tidak terlalu panas, tapi tubuh mengeluarkan keringat. Dan semua itu membuat seluruh anggota badan menjadi sehat.




It was still morning. The sun has been shining on the earth. Not too cold, but warm. Not too hot, but the body sweat. And all of that made my body to be healthy.



Waktu itu hari minggu. Setelah bangun tidur, bocah udik langsung bergegas menuju tempat tinggal salah satu blogger kece, mas Danan Wahyu. Saat itu, kami mau menuju Vihara Ksitigarbha Bodhisattva yang terletak di KM 14 Kijang, Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.




It was Sunday. After woke up, bocah udik rushed to the home of one famous blogger, Danan Wahyu immediately. At that time, we were going to the Vihara Ksitigarbha Bodhisattva located at KM 14 Kijang, Tanjung Pinang, Riau Islands Province.



Dengan mengendarai sepeda motor, kami berpacu menuju Pelabuhan Roro Telaga Punggur yang akan menyebrangkan kami ke Pelabuhan Roro Tanjung Uban. Sebelum berangkat, kami harus membayar tiket Rp 70 Ribu. Rinciannya, Rp 30 Ribu untuk tiket satu unit sepeda motor dan Rp 20 Ribu untuk tiket per orang. Harga tersebut tidak menjadi beban. Bisa dikatakan murah karena akan terbayarkan dengan tempat wisata religi yang menakjubkan.




By riding the motorcycle, we raced to the Port of Roro Telaga Punggur which will across us to the Port of Roro Tanjung Uban. Before leaving, we had to paid Rp 70 thousand. In details, Rp 30 thousand for ticket of motorcycle and Rp 20 thousand for ticket of person. Price did not become a burden. It was cheap because it would be paid with a stunning religious tourism.



Sekitar pukul 09:30 pagi, kapal berangkat menuju Pelabuhan Roro Tanjung Uban. Diatas kapal, kami sibuk mengambil stock gambar dan video. Lumayan banget untuk tambahan dokumentasi atau koleksi. Setelah satu jam, kapal pun mendarat dengan selamat sampai tujuan.




Around 09:30 am, the ship headed Port of Roro Tanjung Uban. On the ship, we were busy taking stock of pictures and video. Very passable for additional documentation or collection. After one hour, the ship landed safely to the destination.



Dari Pelabuhan Roro Tanjung Uban, kami mengendarai sepeda motor menuju kota Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau. Tapi sebelumnya, kami mengisi BBM di SPBU yang terletak tidak jauh dari pelabuhan. Sekitar perjalanan 55 KM dari pelabuhan, kami berhenti sejenak untuk makan siang di warung yang ada di Batu Sembilan. Lokasinya tepat di depan Vihara yang halamannya terdapat kebun pohon buah naga. Kalau tidak salah, tempat makan kami adalah warung nasi Padang.




From Port of Roro Tanjung Uban, we were riding a motorcycle towards the town of Tanjung Pinang, Riau Islands Province. But first, we filled fuel at the pump which is situated not far from the harbor. Around 55 KM from the harbor trip, we stopped for lunch at the stall in Batu Sembilan. Its location in front of the temple whose yard full of dragon fruit tree.








Salah Satu Patung Yang Terdapat Di Depan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva



Sambil makan siang, kami pun cari informasi tentang keberadaan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Mas Danan menelepon temannya, begitu juga bocah udik yang terlalu udik akibat tidak punya referensi. Sebelumnya, kami bertanya kepada pemilik warung. "Oh lokasinya di Senggarang", kata sang pemilik warung.




Over lunch, we were looking for information on the whereabouts Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Danan called his friend, as well as bocah udik who is too hick to got information but no result because not having reference. Previously, we asked the stall owner. "Oh location is in Senggarang", said the stall owner.



Tapi itu bukan vihara yang kami maksud. Dan akhirnya mas Danan pun mendapatkan jawabannya. "Di KM 14 Kijang, Tanjung Pinang. Simpang tugu Kijang, belok kiri. Nanti setelah tugu angkatan udara kita ketemu Jalan Asia Afrika", jelas mas Danan.




But it was not our intent monastery. And finally Danan got the answer. "In KM 14 Kijang, Tanjung Pinang. After Kijang monument, turn left. Later after the memorial air force we meet Jalan Asia Afrika", obviously Danan.



Selesai makan siang, kami langsung menunggangi sepeda motor. Kami berjalan dengan sangat laju. Tapi karena takut salah arah, akhirnya kami menyerah. Ada pedagang gorengan di sebuah persimpangan, lalu kami bertanya dimana lokasi yang akan kami tuju tersebut. Dengan sangat ramah, mereka memberikan informasi kepada kami secara amanah.




After lunch, we went straight to ride a motorcycle. We went very rate. But fearing the wrong direction, we finally gave up. There were seller of fried at a crossroads, and we asked the location where we were headed. With a very friendly, they gave information to us honestly.



Sekitar 7 KM dari Batu 9 tadi, akhirnya kami menemukan Jalan Asia Afrika tepat di sebelah kanan. Lalu kami belok ke jalan tersebut. Dari kejauhan, terlihat dengan jelas Vihara Ksitigarbha Bodhisattva berdiri dengan kokoh. Letaknya diatas bukit seperti menyentuh awan. Begitu sampai di lokasi, akhirnya kami parkir sepeda motor. Setelah itu, kami harus mendaki. Tidak terlalu tinggi. Tidak juga terlalu rendah. Tapi lumayan membuat badan jadi lebih sehat. Karena kalau kesana harus memiliki badan yang kuat.




About 7 KM from Batu 9 last, we finally found the Jalan Asia Afrika in our right. Then we turned to the road. From a distance, it was clear to see Vihara Ksitigarbha Bodhisattva standing strongly. It's like touching the clouds over the hill. Arrived location, we ended up parking the motorcycle. After that, we had to climb. Not too high. Not too low. But rather made the body more healthy. Because if go there must to have a strong body.



Begitu sampai, bocah udik langsung heboh. Heran tidak menentu. Melihat pemandangan yang begitu indah. Di depan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, kita langsung disambut dengan patung yang sangat besar. Naluri pun memacu untuk mengambil foto. Suasananya juga seperti di Tiongkok. Ya walaupun belum pernah ke Tiongkok, tapi bocah udik pernah liat suasana Tiongkok dari televisi. Sambil memegang kamera, bocah udik dan mas Danan menyusuri seluruh lokasi. Kami pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.




Arrived, bocah udik instantly excited. Surprisingly erratic. Seeing the beautiful scenery. In front of the Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, we were immediately greeted with a huge statue. The instinct was spurred to take photos. The atmosphere as well as in China. Yes, although never been to China, but bocah udik ever saw Chinese atmosphere on television. While was holding the camera, bocah udik and Danan down the entire site. We were busy with their individual activities.



Ternyata di Vihara Ksitigarbha Bodhisattva ada patung yang berbaris dan tersusun dengan rapi. Vihara itu juga dikenal dengan Vihara Patung 1.000. Padahal jumlahnya tidak mencapai 1.000 patung melainkan 546 patung. Untuk orang Chinese atau Tiongkok, vihara itu dikenal dengan Vihara 500 patung. Unik banget ya namanya. Satu Vihara tapi dikenal dengan tiga nama.




In Vihara Ksitigarbha Bodhisattva, there are statues which are lined up and arranged neatly. The Vihara was also known as the Statue of 1,000. Though the number does not reach 1,000 but 546 statues. For the Chinese people, it is known as Vihara 500 statues. Yes very unique name. One Vihara but known by three names.



Menurut cerita dari pengurus, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva itu dibangun dan dikelola oleh Yayasan Ling San Ju Wan Su. Dibangun pada tahun 2004 dan dibuka pada tahun 2006. Pernah ditutup juga beberapa kali akibat renovasi. Konon, seluruh patung didatangkan langsung dari negeri Tiongkok. Patung-patung tersebut dikerjakan oleh para gadis yang masih perawan. Banyaknya patung di vihara itu, sepintas mirip dengan suasana patung prajurit terakota.




According to the stories, Vihara Ksitigarbha Bodhisattva was built and managed by the Foundation San Ju Wan Ling Su. Built in 2004 and opened in 2006. Ever closed a few times due to renovations. That said, the entire statue was imported directly from the country of China. The statues were done by the girls who are still virgins. Because to many statues in Vihara, seemingly similar to the atmosphere of terracotta warriors.



Jika Vihara Ksitigarbha Bodhisattva memiliki 500 patung murid Budha dengan berbagai ekspresi wajah atau gaya dan total seluruhnya sebanyak 546 patung dengan patung dewa lainnya, pasukan atau prajurit Terakota (Terracotta) memiliki 8.099 patung. Seluruh patung berbentuk tokoh prajurit dan kuda dengan ukuran asli yang terletak di dekat makam dari Kaisar pertama dinasti Qin, Qin Shi Huang. Terakota sendiri dibangun pada tahun 210 SM - 209 SM dan bertujuan untuk melindungi Kaisar Qin sesudah kematian Kaisar.




If Vihara Ksitigarbha Bodhisattva has 500 statues of Buddha's pupil with different facial expression or style and in total as many as 546 statues with statues of other deities, forces or soldiers Terracotta (Terracotta) has a 8.099 statues. The entire statues shaped figures of soldiers and horses to the original size which was located near the tomb of the first Emperor of the Qin dynasty, Qin Shi Huang. Terracotta itself was built in the year 210 BC - 209 BC and aims to protect Emperor Qin after the death of the Emperor.



Balik ke cerita semula. Di area vihara, terdapat tembok dinding yang sangat tinggi. Suasana di dalam juga terasa seperti berada di China. Tidak puas dengan area di satu titik lokasi, bocah udik menuju atas bukit. Disana terdapat rumah ibadah agama Budha. Ada juga patung berwarna emas. Sekeliling patung itu dipagar. Tepat di depan patung, terdapat kolam kecil yang ada ikannya.




Back to the story. In the area of ​​the Vihara, the walls are very high. The atmosphere inside was also felt like being in China. Not satisfied with the area at one point locations, bocah udik heading up the hill. There were houses of worship Buddhism. There was also a gold statue. Fence around the statue. In front of the statue, there was a small pool of existing fish.



Dari atas bukit tersebut, terlihat dengan sangat jelas dan indah pemandangan Patung 1.000. Indah dan begitu rapi. Susunannya tertata memanjakan mata. Sangat cocok dijadikan tempat wisata religi. Daya tariknya sangat kuat seperti baja. Dan ternyata, Vihara ini belum diresmikan oleh Pemerintah.




From the top of the hill, looks very clear and beautiful views of the Statue of 1,000. Beautiful and so neat. The arrangement arranged feast for the eyes. It was suitable to be a place of religious tourism. Its appeal was very strong as steel. And actually, this temple has not been unveiled by the Government.






Patung Emas DI Vihara Ksitigarbha Bodhisattva



Vihara Ksitigarbha Bodhisattva atau Vihara 1.000 patung itu diresmikan pada tanggal 10 Februari 2017. Nantinya akan dicanangkan sebuah rencana untuk dijadikan tempat wisata religi yang komersil. Bagi wisatawan dari Luar Indonesia akan dikenakan biaya. Sedangkan untuk wisatawan asal Indonesia tidak akan dikenakan biaya alias gratis.




Ksitigarbha Bodhisattva or Vihara of 1.000 statues was inaugurated on February 10, 2017. Will be announced a plan to be used as a religious tourist commercial. For tourists from Outside Indonesia will be charged. As for the tourists from Indonesia will not be charged or free.



Cuaca semakin terik. Saat itu bocah udik mengenakan pakaian terlalu pendek. Menyebabkan kulit semakin eksotik. Kemudian mengajak mas Danan untuk kembali mudik. Selain itu, kami juga diburu dan berlaga dengan sebuah detik. Akhirnya kami pun kembali. Tapi sebelumnya harus membayar parkir terlebih dahulu. Tarif parkir untuk sepeda motor hanya Rp 2 Ribu, sedangkan untuk mobil hanya Rp 5 Ribu.




The weather was getting hot. At that time, the bocah udik was wearing pants too short. Causing the skin to increasingly exotic. Then asked Danan to go back. In addition, we were also hunted and competed with time. Finally we went back. But previously had to pay for parking in advance. Rates of parking for motorcycles only Rp 2 thousand, and for cars only Rp 5 thousand.



Sekitar pukul 03 sore, kami berjalan dengan laju menuju Pelabuhan Roro Tanjung Uban. Sampai di pelabuhan, kami membayar tiket masuk. Untuk menuju Pelabuhan Roro Telaga Punggur, kami harus mengeluarkan biaya yang sama, yaitu Rp 70 Ribu. Kapal pun berangkat sekitar pukul 04 sore. Dan kami tiba di Pelabuhan Roro Telaga Punggur dengan selamat dan sehat sekitar pukul 05 sore.




Around 03 pm, we walked to the Port of  Roro Tanjung Uban. Arriving at the port, we paid admission. To get the Port of Roro Telaga Punggur, we must paid the same, namely Rp 70 thousand. The ship departs at 04 pm. And we arrived at the Port of Roro Telaga Punggur safely at around 05 pm.



Itulah perjalanan unik dari bocah udik dan blogger kece, mas Danan. Semuanya terbayarkan walau pantat kami terasa pegal. Perjalanan yang jauh yang menghabiskan waktu. Dan waktu yang terbuang juga tidak sia-sia melainkan membuat hati gembira ria.




That's the unique journey of a bocah udik and famous blogger, Danan. It all paid off despite our butt is sore. Long journeys are spent. And wasted time is not wasted but instead make a joyous heart.




RINCIAN:



- Harga Tiket Kapal Roro / orang / sekali berangkat Rp 20 Ribu.

- Harga Tiket Kapal Roro / satu unit sepeda motor / sekali berangkat  Rp 30 Ribu.
- Isi bensin Rp 20 Ribu. (Tergantung kendaraan).
- Biaya parkir sepeda motor Rp 2 Ribu / unit.
- Biaya parkir Mobil Rp 5 Ribu / unit.

DETAILS:

- Boats Roro Ticket Price / person / once departed Rp 20 thousand.
- Ticket of Roro / a motorcycle / a departing Rp 30 thousand.
- Fill gasoline Rp 20 thousand. (Depending on vehicle).
- Motorcycle parking fee Rp 2 thousand / unit.
- Car parking fee Rp 5 thousand / unit.





SARAN:



Akibat perjalanan yang terlalu jauh, apalagi dari luar daerah, harus membawa bekal makanan. Kalau mau praktis, beli aja makanan. Jangan lupa periksa kendaraan sebelum berangkat. Jangan lupa bawa kamera untuk dokumentasi. Dandan yang kece biar tidak memble.


SUGGESTION:

Due to travel too far, Especially from outside the area, should bring food. If you want a practical, just buy food. Do not forget to check the vehicle before leaving. Do not forget to bring a camera for documentation. Grooming good let me not bad mood.





Tembok Yang Mirip Seperti Dengan Tiongkok





Patung Yang Berada Di Depan Vihara Ksitigarbha Bodhisattva



Bocah Udik Di Depan Tembok Yang Mirip Seperti Suasana Tiongkok



Share on Google Plus

About bocahudik

10 komentar:

  1. Nice review Mas. I want to go there soon.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kakak.... Dijamin ga menyesal kalau kesana :-)

      Hapus
  2. cieee si udik juga heboh kan jadinya, kalo liat vihara ini...hahahhaha..ntuh pake celana pendek apa gak gosong tuh kulit ???

    BalasHapus
  3. Nice story, hopefully
    next time can visit there...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you. Sure you can visit there :D

      Hapus
  4. kapan lagi kita kesini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kak atur waktu. Kita kesana sekalian ke trikora juga

      Hapus
  5. Aku belum pernah ke Terrakota ini. Liat postingan ini, jadinya pengen kesana. Ayo kapan kita kesana?

    Btw, saran neh buat Bocah udik: postinganmu kece, dwi bahasa. Kalau bisa, buat masing-masing per post. Misalkan postingan berbahasa Indonesia, Postingan berbahasa Inggris. Baru tautkan link nanti, seperti "For english post, just click the link below, or click here". saran aja sih Fie.. keren tulisanmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kak buat jadwal kesana naik motor.

      Terima kasih sarannya kak... Dedek suka :D

      Hapus