Mom, Forgive Me As Your Son

Bocah Udik And His Lovely Mom


Kalau ada pertanyaan tentang wanita terhebat seperti tuhan yang ada di dunia, bocah udik pasti menjawab Ibu. Alasan sederhana, Ibu mampu memberikan kehidupan untuk anak-anaknya. Kehidupan yang baru di dalam dunia. Jika tidak, mana mungkin Ibu rela menahan rasa sakit selama sembilan bulan saat kita ada di dalam kandungannya. Itu semua dilakukan demi cintanya kepada kita.

If any questions about the greatest woman like god in the world, bocah udik will answer mother. The simple reason is mother can provide life for her children. A new life in the world. If not, how could she willingly endure the pain for nine months when we are in the womb. It is all done by her for the love of us.

Selama sembilan bulan, bocah udik berada di dalam kandungan Ibu. Memakan apa yang dia makan, menendang-nendang perutnya, serta membuat bebannya semakin bertambah dengan adanya bocah udik.

For nine months, bocah udik was in mother's womb. Eat what she ate, kicked her stomach, and made her burden grow with bocah udik.

Dan ketika bocah udik dilahirkan, ibu menantang kematian. Hidup dan mati akan dia jalani. Bersusah payah mengeluarkan bocah udik dari dalam rahimnya. Menahan rasa sakit hingga keringat bercucuran seperti derasnya air dari laut.

And when bocah udik was born, mother challenged death. Life and death will she did. Bothered to get bocah udik out of her womb. Resist the pain to sweat like the swift water from the sea.

Bahkan rasa sakitnya tidak berhenti sampai disitu saja. Ibu menyusui bocah udik hingga air susu berubah menjadi darah. Tidak jarang bocah udik menggigit payudaranya sampai timbul rasa nyeri. Bocah udik terlalu jahat namun Ibu merasa bahagia. Ibu rela melakukan apa saja untuk anak-anaknya.

And the pain did not stop there. Mother breastfeeds bocah udik until the milk turns to blood. Not infrequently bocah udik bite her breasts until pain arises. Bocah udik was too bad but Mother was happy. Mother is willing to do anything for her children.

Setelah itu, bocah udik tumbuh dan bisa berjalan. Namun bocah udik tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan makan saja masih dibantu oleh ibu. Saat Ibu makan, bocah udik juga buang air besar. Dengan cepat, Ibu membantu bocah udik. Kadang Ibu lupa mencuci tangannya dan melanjutkan makannya. Betapa besar pengorbanan Ibu dan betapa jahatnya bocah udik saat itu.

After that, bocah udik grew up and could walk. But bocah udik could not do anything. Even the meal was still assisted by the mother. When She ate, bocah udik also defecate. Quickly, Mother helped bocah udik. Sometimes Mother forgot to wash her hands and continue to eat. How great the sacrifice of Mother and how wicked bocah udik was at that moment.

Memasuki masa sekolah, ibu selalu mengantar bocah udik ke sekolah. Kadang menyiapkan bekal makanan untuk bocah udik. Sebelum berangkat ke sekolah, ibu membangunkan bocah udik dari tidur dan memandikan bocah udik. Bocah udik yang tidak tahu berterima kasih, pernah marah dengan alasan yang tidak jelas. Namun ibu masih tetap tersenyum.

Entering school, mother always drove bocah udik to school. Sometimes prepare food for bocah udik. Before leaving for school, mother woke bocah udik up from sleep and bathed bocah udik. bocah udik's the ungrateful, ever angry with an unclear reason. But mother is still smiling.

Jika bocah udik tidak memiliki uang, ibu rela menyisihkan uang belanja untuk jajan bocah udik. Ibu rela berbagi uang untuk anaknya. Tapi saat bocah udik diperintahkan untuk berbelanja, bocah udik tidak pernah mau dan selalu melawan perintahnya.

If bocah udik did not have money, mother willing to set aside spending money. Mother willing to share money for her child. But when bocah udik was ordered to shop, bocah udik never wanted to and always against her ask.

Pernah suatu hari, ibu mengajak bocah udik ke pasar. Disana banyak tersedia makanan, pakaian, serta mainan. Dengan sabarnya, Ibu menuruti keinginan bocah udik. Jika tidak dituruti, bocah udik bisa menangis sampai membuatnya malu.

One day, mother took bocah udik to the market. There were available of food, clothing, and toys. With her patience, Mother obeyed bocah udik's wish. If not obeyed, bocah udik can cry to embarrass her.

Memasuki masa smp dan sma, ibu mendaftarkan bocah udik ke sekolah yang bagus. Tapi bocah udik tidak menurutinya dan bocah udik memilih sekolah yang jauh dari rumah. Dengan sabar, ibu mendukung keinginan bocah udik lagi. Di sekolah ini, bocah udik bisa membuatnya sedikit bahagia dengan beberapa prestasi yang bocah udik raih. Namun terkadang bocah udik masih membuat Ibu sakit hati.

Entering the junior and senior high school, mother enrolled bocah udik to a good school. But bocah udik did not comply and chose a school which was far from home. Patiently, mother supported bocah udik's wish again. In this school, bocah udik can make her a little happy with some of the achievements that bocah udik achieved. But sometimes bocah udik still make mother hurt.

Berada di universitas, ibu terlihat bahagia. Apalagi setelah bocah udik bersusah payah mendapatkan gelar sarjana. Saat itu bocah udik kuliah dan juga bekerja. Ibu adalah orang pertama yang mencarikan bocah udik pekerjaan. Sambil bekerja, akhirnya bocah udik bisa sarjana. Itu semua karena perjuangan seorang ibu.

Being in university, mother looked happy. Especially after bocah udik bothered to get a bachelor's degree. At that time bocah udik was in college and also working. Mother was the first person to find bocah udik a job. While working, bocah udik finally got a degree. It's all because of a mother's struggle.

Tapi saat ini, bocah udik sadar kalau bocah udik sangat durhaka kepada ibu. Tidak berterima kasih kepada ibu. Mengacuhkan kabarnya, kesehatannya, bahkan tidak mau tahu soal ekonominya. Betapa hinanya bocah udik.

But right now, bocah udik realize that bocah udik is very lawless to the mother. Ungrateful to mother. Ignore her news, health, and even doesn't want to know about her economy. How humiliated bocah udik is.

Bocah udik menulis ini karena agar pembaca tahu betapa buruknya sifat dan sikap bocah udik. Bocah udik juga tidak peduli pikiran negatif pembaca tentang bocah udik. Karena itu pantas bocah udik terima. Meski bocah udik bukan orang terkenal, tapi setidaknya pembaca bisa belajar dari pengalaman bocah udik.

Bocah udik writes this story to tell the readers how bad bocah udik attitude is. Bocah udik also does not care about the reader's negative thoughts about bocah udik. That's why bocah udik deserve it. Although bocah udik is not a famous person, but at least the readers can learn from bocah udik's experience.

Sekitar dua bulan lalu, bocah udik mendapatkan kabar yang mengejutkan dari kakak bocah udik. Ibu sedang sakit keras. Bocah udik disuruh untuk menelepon ibu. Tapi karena sedang marah dengan ibu, bocah udik tidak mau melakukannya. Bahkan bocah udik tidak mau berbicara kepada kakak bocah udik.

About two months ago, bocah udik got some bad news from sister. Mother was ill. Bocah udik was told to call mother. But because bocah udik was angry with mother, bocah udik did not want to do it. And also bocah udik did not want to talk to sister.

Bocah udik memiliki masalah kecil dengan kakak bocah udik. Masalah yang tidak perlu dibesar-besarkan. Hanya karena kakak jarang mengangkat telepon, bocah udik langsung marah kepadanya. Tapi bocah udik marah karena memiliki alasan. Bocah udik mau tahu kabar mereka di kampung dan kenapa kakak tidak mau mengangkat telepon.

Bocah udik has a problem with sister. The unnecessary issue is exaggerated. Just because sister picks up bocah udik's phone rarely, bocah udik got mad at her. But bocah udik was angry for having a reason. Bocah udik wants to hear the news from them in the village and why sister did not pick up the phone.

Selain itu, bocah udik juga marah kepada ibu. Awalnya Ibu mau beli sepeda motor dan meminta bocah udik agar membantunya. Dan bocah udik memberi syarat kepada ibu jika mau membeli sepeda motor, yang dibeli harus baru dan dicicil selama 12 bulan atau 18 bulan. Tapi ternyata ibu membeli sepeda motor bekas dengan cicilan selama 36 bulan. Dari situlah bocah udik marah kepada ibu.

Besides, bocah udik was also angry with mother. First, Mother wanted to buy a motorcycle and asked bocah udik to help her. And bocah udik gave a condition to mother if want to buy motorcycle, which must be bought new and installment for 12 months or 18 months. But it turns out the mother bought a used motorcycle with installment for 36 months. That's why bocah udik was angry with mother.

Seiring berjalannya waktu, bocah udik selalu merenung tentang kebodohan bocah udik. Kenapa dengan masalah seperti itu bocah udik marah kepada ibu dan kakak bocah udik. Kenapa bocah udik harus membuat ibu menderita. Padahal bocah udik sudah membuatnya sakit sejak bocah udik dalam kandungannya. Hanya karena ibu melakukan kesalahan sekali, kenapa bocah udik harus marah.

And time goes by, bocah udik always reflect on folly. Why with the problems, bocah udik was angry with mother and sister. Why should bocah udik make mother miserable. And bocah udik has made her sick since bocah udik was in her womb. Just because mother made a mistake once, why should bocah udik be angry.


The Text Between Bocah Udik And Mother


Apalagi setelah melihat kiriman pesan singkat melalui telepon genggam kemarin. Ibu meminta sedikit bantuan uang untuk ke dokter. Dan yang lebih parah lagi, bocah udik membaca pesan yang pasti akan membuat bocah udik menyesal selama hidup bocah udik kalau itu terjadi. Pesan singkat yang kata-katanya kalau nantinya uang yang dibuat ke dokter tidak bisa menyembuhkan dan tidak memiliki umur panjang, biarlah untuk pegangan ibu.

Especially after seeing a short message via mobile phone yesterday. Mother asked a little money for a doctor. And worse, bocah udik read a message that will surely make bocah udik regret for the rest of bocah udik's life if that happens. Short messages that words if later money made to the doctor can not cure and do not have longevity, let it for the mother's grip.

Ibu, maaf kan bocah udik sebagai anakmu. Bocah udik menyesal melakukan itu semua. Bocah udik pasti akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagianmu.

Mom, Forgive me as your son. I'm sorry to do it all. I will definitely try to do my best for your happiness. I swear!
Share on Google Plus

About bocahudik

0 komentar:

Posting Komentar