Memenangkan Cinta Tanpa Menikah Dan Hidup Bahagia

By Bocah Udik - 7:01 AM

Suatu hari aku akan merindukan tatap matamu. Saat ternyata aku bukanlah orang yang kau tatap saat itu. Aku harus menerima bahwa kenyataan hanya ingin memeluk tubuhku sendiri. Aku harus memahami bahwa lihatmu bukan untukku lagi. Meski ada yang hilang dari pandang, namun tentangmu akan tetap terkenang. -Boy Chandra.

Saya memutuskan tidak akan menikah dalam hidup saya. Keputusan itu ternyata benar, menurut saya kalau dilihat saat ini. Dan itu sudah pernah saya tulis di blog. Keluarga dan teman-teman saya menentang. Tapi kembali lagi, itu adalah pilihan hidup saya.

Baca: Think Twice Before Get Married

Beberapa bulan terakhir, saya merasakan indahnya bunga percintaan. Rasa yang pernah muncul sewaktu jaman SMP, sebelum saya memutuskan untuk tidak akan menikah. Rasa yang waktu itu bisa membangkitkan semangat dalam hidup, Cinta. Namun kali ini bukan cinta monyet, melainkan cinta yang buta.

Seorang gadis yang menutup jalan pikiran saya hingga seperti orang gila. Usianya lebih tua 1 tahun dari saya. Bayangkan saja, saya melintasi dan mutar-mutar di jalan yang sama hanya karena dia membatalkan janjinya. Kami yang waktu itu mau makan berdua layaknya pasangan kekasih. Dan kejadian itu selalu terulang saat dia membatalkan janjinya.

Kenapa saya seperti orang gila? Itu karena kriteria perempuan yang menyentuh hati, ada di dirinya. Berbicara soal kriteria gadis impian atau pujaan, saya suka yang berambut panjang. Itu poin utama. Lalu berbadan tinggi dan cerdas. Kalau ada yang berambut pendek, bisa saja saya suka tapi harus tinggi. Dan yang penting bukanlah laki-laki.

"Sore nanti kita makan di KFC Marelan yuk," ajaknya waktu itu.

Setelah perkenalan hina di pagi hari itu, dia langsung mengajak saya untuk makan. Perkenalan yang terjadi pada tanggal 24 Februari 2019 lalu. Jarak antara rumah saya dan dia tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 30 menit namun sangat dekat dengan daerah kantor saya, Belawan.

Awal pertemuan di pagi buta itu, turut membutakan pikiran saya juga. Dia bercerita tentang hidupnya, keluarganya, dan pekerjaan hingga percintaannya. Saya tertarik dengan dirinya yang menurut saya, jujur. Terlebih kami pernah tinggal di kota yang sama, Batam.

Saya menunggu dirinya di tempat yang kami janjikan sore itu. 30 menit lebih cepat karena janji ketemu pada pukul 17:30 WIB. Untuk membuang waktu, saya pesan makanan terlebih dahulu. Namun tak ada kabar dari dia hingga 2 porsi makanan sudah saya lahap.

"Maaf... Aku di Gatsu. Bentar lagi kesana," Isi pesan Whatsapp dia sambil kirim photo.

Saya pun masih sabar menunggu. Namun pada pukul 21:00 WIB, saya menghubungi dirinya. Dan tidak ada jawaban. Kemudian saya memutuskan untuk pulang ke rumah.

Saat di jalan, tiba-tiba ada bunyi telepon. Dia mengabarkan kalau berada di Centre Point Mall, dan mengajak saya kesana. Tanpa berpikir panjang, saya memutar haluan dan langsung ke mall tersebut.

Namun saat saya tiba, ternyata handphone miliknya tidak aktif. Saya sulit menghubungi dirinya. Dengan rasa sabar, saya tetap menunggu hingga pukul 23:00 WIB. Namun karena tidak ada jawaban, akhirnya saya balik ke rumah.

"Sial!!! Anjriiit banget nih cewek," Omel dalam hati. Keesokan paginya, dia mengabarkan kalau diajak ke Brastagi oleh teman-temannya.

Satu minggu kemudian, dia mengajak saya ketemu lagi. Berjanji makan di tempat yang kemarin. Lagi dan lagi, hal itu batal. Saya seperti orang gila, mutar-mutar di jalan yang sama.

"Sial!!! Kenapa rasa ini buat saya jadi orang bodoh," Pikirku saat itu.

Dan dia pun meminta maaf untuk kedua kalinya. Sabagai ganti, dia mengubah jadwal untuk ketemu. Bersyukur kali ini dia komitmen untuk ketemu pada hari minggu. Artinya seminggu setelah janji kedua batal.

Setelah dari pertemuan itu, saya diajak ke rumahnya. Dia mengundang saya karena rumahnya sepi. Anda pasti sudah tahu akibatnya kalau kondisi seperti itu, setan akan senang. Dan hal itu pun terjadi.

"Lumayan," Bathinku.

Tidak ada kontak lagi dengannya setelah kejadian itu. Berhari-hari tak ada kabar. Saya pun merasa menang. Siapa sih yang menolak kalau ada rezeki. Dan waktu itu dia juga bercerita kalau membatalkan janji dengan saya akibat diajak oleh teman-teman prianya. Maaf, ini sebenarnya aib tapi saya orangnya open minded. Jadi, kembali lagi ke anda.

-----------------------------------------------------------------------

Awal perkenalan dengan gadis yang kedua ini, cukup menarik. Dia chat saya dari media sosial dan berlanjut ke whatsapp. Kemudian kami janjian untuk ketemu. Berbeda dengan kasus di atas, yang ini tampak jujur dan berkomitmen. Usianya juga lebih muda 7 tahun dari saya.

Awal chat kemarin dimulai tanggal 23 maret 2019. Dia mengajak saya untuk pacaran setelah ketemu pada tanggal 29 maret 2019. "Berani banget ini perempuan," pikirku.

Pertemuan pun terus berlanjut. Saya mulai memiliki rasa yang sangat sayang padanya. Namun tak tahu mengapa, dia bercerita kalau sudah memiliki pacar di kampung yang usianya setahun lebih tua dari dirinya. Pacarnya selalu membantu dia dalam segi ekonomi. Tapi dia tak terlalu mencintai.

"Kesempatan ini," kataku.

Sekilas tentang dirinya yang bukan orang Medan, melainkan dari Lubuk Pakam. Dia bekerja di Medan dan mengontrak sebuah rumah. Tinggal di Medan sekitar dua tahun lalu, setelah dia lulus dari SMA.

Saya akui, sifat kekanak-kanakkannya masih muncul saat kami jalan bersama. Hal itu membuat saya semakin jatuh cinta, sayang, dan senang tentunya. Perasaan yang begitu sangat dalam. Sehari tanpa dirinya, saya merasa trauma. Takut kehilangan selamanya. Apalagi kalau dengar dia pulang kampung, perasaan itu semakin kalut karena takut dia akan menjumpai kekasihnya.

"Kamu masih jalan sama pacar kamu di kampung? Aku sudah sayang sama kamu lho," kataku.

Dia selalu menjelaskan kalau dia juga sayang sama saya. Tapi tidak juga bisa meninggalkan pacarnya di kampung. Mungkin karena pacarnya sudah ada jasa dalam hidupnya, yaitu membiayai ekonominya. Saya harus bisa belajar maklum dengan hal itu.

Saya datang ke kontrakannya karena diminta untuk menemaninya malam itu. Dia menginginkan saya untuk tidur di kontrakannya. Malam itu, sebelum tidur kami membahas tentang pacarnya yang di kampung. Saya juga tak mau kalau dia membagi perasaannya ke pria manapun, kecuali saya.

"Ngapain sih dia balik kampung? Putusin aja udah itu pacarnya," ucapku dalam hati.

Kalau dia balik dari kampung, saya langsung terdetak untuk melihatnya dari dekat. Tak mau sedikit pun ada yang hilang dari dirinya. Saya mau utuh tanpa kekurangan apapun yang ada padanya. Cemburu itu mulai timbul karena adanya si pacar. Padahal saya adalah orang ketiga, yang mungkin bisa dikatakan sebagai perusak hubungan mereka.

Malam itu, malam yang indah bagi kami dan saya tentunya. Bisa tidur dekat dengan dirinya. Dan paginya sebelum berangkat ke kantor, saya masuk ke kamarnya. Saya pun beranikan diri untuk mencium keningnya. Tak ada penolakan dari dia. Saya pun semakin nekat untuk menciumi dia lebih lama lagi. Setelah itu berangkat ke kantor dengan perasaan yang sangat bahagia.

"Nanti malam minum ice cream yuk." Katanya melalui pesan whatsapp.

Perempuan itu memang suka sekali dengan ice cream. Dan itu juga menu yang dipesan olehnya saat kami hang out pertama kali. Ketika hang out, tak jarang membahas tentang keluarganya di kampung. Bukan hanya si pacar yang menjadi penghalang bagi saya.

Ketika dia minta jalan, saya selalu menurutinya. Tanpa berpikir panjang, kami kadang keluar larut malam akibat rasa sayang itu. Ingin rasanya berjam-jam berada di sampingnya. Rasa ini tidak bisa diterima oleh akal namun saya senang karena bisa dikatakan memiliki dirinya yang utuh dibandingkan pacarnya.

"Jahatnya saya," Bathinku. Sampai sekarang, saya masih bersamanya. Rasa senang dan berbunga-bunga selalu muncul tiap hari. Apalagi kalau saya mencium dan memeluknya sebelum berangkat ke kantor. Saat dia masih terlelap dalam tidur dan terbangun akibat kelakuan saya tersebut. Bahagia sekali rasanya hidup saya.

Oh iya, keberanian saya untuk mencumbui dirinya terjadi sejak rabu kemarin. Dan itu terjadi hingga sekarang. Artinya, saya bisa dikatakan menang dibandingkan pacarnya. Biarlah status pacaran melekat pada lelaki di kampung, namun saya yang memiliki dirinya yang utuh. Dan ini akan saya kenang karena kemungkinan tak bisa bertahan lama karena adanya sang pacar di kampung halaman dan keputusan saya yang tak akan menikah.

  • Share:

You Might Also Like

11 komentar

  1. Ahhhh....
    Apa yang harus kukomentari...


    Akubingung, aku bingung, aku bingung....

    ReplyDelete
  2. Gimana dengan sex tanpa menikah?

    ReplyDelete
  3. Saya perempuan, tapi nggak suka eskrim.

    ReplyDelete
  4. 🤔 komen apa ya,ku juga bingung

    ReplyDelete
  5. Ow ow ow...ini beneran apa cerpen yak...saya bingung...mau komen apa

    ReplyDelete
  6. Yakin fi sama keputusannya? Keluarga gak menuntut berubah fikirankah? Emak mungkin? Biasanya emak emak sulit menerima pendapat anti mainstream seperti ini..

    ReplyDelete
  7. saya juga ndak tau mau komen apah...
    banyak2 istighfar aja bang alfie..

    dan sholat taubat

    #garuk2 pala yang ndak gatel#

    ReplyDelete
  8. bahagia itu relatif. sebagian orang merasa bahagia menjalani kehidupan tanpa menikah, itu pilihan. namun jika kembali lagi ke tujuan hidup sebenarnya, tidak menikah berarti merelakan kesempatan meraih pahala yang dijanjikan. #aseeekkkk

    ReplyDelete
  9. Hidup adalah pilihan. Setiap hari kita dihadapkan pilihan. Pilihan-pilihan kita inilah yang menentukan kita ke depannya. Sehingga kita harus ekstra hati-hati menentukannya. Apalagi perihal menikah.

    ReplyDelete
  10. Jalani sesuai pilihan hari bang. Bahagia kita yang menentukan sendiri

    ReplyDelete
  11. Wow 0_0

    Hmmm apa ya..

    Menurutku sih mungkin karena mas nemunya dari sosial media atau aplikasi dating kali ya, jadinya orangnya enggak serius begitu. Hanya pengen ditemani, dikeloni, saat lagi butuh dan merasa sendiri aja.

    Makanya jadinya enggak bisa dibawa kemana-mana.
    Stuck disitu-situ aja.

    Tanpa mengurangi ras hormat, menurutku sih Mas terlalu cepat mengambil keputusan untuk nggak menikah, karena kondisinya kan sekarang mas lagi bersama dengan orang yang nggak akan bisa mas nikahi.

    Siapa tau nanti Tuhan ngasih rezeki, dipertemukan dengan wanita lain yang sungguh-sungguh ingin membangun rumah tangga bersama. Apa iya mas masih ingin nolak? wkwk

    Just let it be aja deh mendingan
    Kalau dapet disyukuri, kalu enggak disyukuri

    Daripada dipatok nggak akan mau menikah gitu, malah nanti makin jauh deh dari kemungkinan itu, ya kan mas

    ReplyDelete