Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo Tak Ramah Wisatawan, Pencuri Terus Beraksi

Pulau Pandang

Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo terletak di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Kedua pulau tersebut memiliki keindahan yang sangat luar biasa. Saya beruntung bisa berwisata ke sana hingga dua kali. Kali ini bersama 15 orang teman, kami berangkat malam hari dari kota Medan menggunakan sepeda motor.


Kami tiba di Pelabuhan Tanjung Tiram pukul 2 dini hari. Tiba di pelabuhan, kami langsung parkirkan sepeda motor dan dikenakan biaya Rp 80 ribu untuk 8 kendaraan. Beberapa pria paruh baya menghampiri kami untuk menawarkan boat ke Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo.

"Kami sudah ada guide pak," kata saya.

Mereka terus (seperti) memaksa kami, meski sudah ditolak. Akhirnya saya meminta nomor kontak mereka karena suatu saat, saya akan kembali ke Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo. Tujuannya agar menggunakan boat mereka.

Kami memutuskan untuk istirahat sejenak di warung kopi yang ada di area Pelabuhan Tanjung Tiram. Beberapa pria paruh baya yang memaksa kami di area parkir tadi, juga ada di warung kopi tersebut seperti mengikuti gerak kami.

"Ke pelabuhan aja yuk," kata Jefri saat itu.

Sekitar satu jam beristirahat di warung kopi, kami beranjak pergi ke Pelabuhan Tanjung Tiram. Jefri mengajak ke pelabuhan karena dia berpikir disana bisa istirahat meski tak pasti.

Kami pun mencari lokasi untuk beristirahat. Dengan menggunakan jas hujan sebagai alas tidur, kami beristirahat di area parkir mobil. Akhirnya kami tertidur. Sedang saya tidur di dekat mereka.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan kami, para wisatawan. Seorang pencuri mengambil tas Ridho, salah seorang teman saya yang berisikan kunci sepeda motor, dua buah unit telepon genggam, power bank, uang, dan dokumen lain. Pencuri beraksi saat kami sedang beristirahat di Pelabuhan Tanjung Tiram, Batu Bara, Sumatera Utara.

Balam (Baju Hitam, Kanan) Yang Diduga Mencuri

Seorang pria yang diduga pencuri, justru berperan sebagai pahlawan. Mengatakan kalau dia yang menemukan tas tersebut namun saat diperiksanya, dua unit telepon genggam, uang, dan power bank sudah lenyap. Pria tersebut juga ada saat kami tiba di Pelabuhan Tanjung Tiram. Artinya, dia sudah mengikuti kami dari awal tiba.

"Tadi saya menemukan tas di gantung pintu itu (pintu parkir). Saya tanya ke orang lain, tapi ga ada yang ngaku. Jadi, tasnya saya bawa ke kantor," kata Balam yang diduga pencuri itu.

Ridho dan Balam pergi ke kantor pelabuhan untuk mengambil tas. Sementara kami mencari saksi yang mungkin saja tahu kejadian sebenarnya.

“Tadi bapak itu tanya, gimana cara nyalakan remote sepeda motor itu,” kata pengunjung lain yang mau berkemah di Pulau Pandang.


Apa tujuan pria tersebut menanyakan cara menggunakn remote sepeda motor kalau tak mau berbuat jahat? Setelah Ridho dan Balam (nama panggilan pria tersebut di pelabuahan) kembali, Balam tetap tak mangakui. Justru dia seolah-olah niat memberikan bantuan untuk mencarikan telepon genggam yang hilang karena menurutnya, temen dari Balam yang mencuri. Balam pun memberikan harga kesepakatan jika telepon genggamnya ditemukan.

Kami sepakat untuk ketemu setelah balik dari Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo. Keesokan harinya setelah balik dari pulau, kami menjumpai kepala pos pelabuhan. Kami meminta izin untuk lihat rekaman CCTV karena di area parkir terdapat CCTV.

Setelah periksa CCTV, memang terlihat Balam memegang tas milik Ridho. Dia mencampakkan tas ke celah tembok pagar. Kemudian masuk ke area parkir. Tak berapa lama, dia memegang tas tersebut dan seolah-olah menemukan tas.

Hal tersebut sangat berbeda dengan ucapan Balam yang menemukan tas di gantung pintu pagar. Kami mencari Balam setelah itu dan ketemu. Ketika diinterogasi (kek polisi), dia tak ngaku dan bawa-bawa nama Tuhan.

"Tak kekal saya kalau mencuri. Saya membantu karena Allah," kata Balam.

Tak ada pertangungjawaban dari pihak pelabuhan karena hal tersebut itu terjadi di area pelabuhan, dalam hal ini KPLP.  Sementara, Balam yang diduga mencuri bukanlah tukang parkir namun punya akses seperti tukang parkir. Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Pos Pelabuhan.

Bahkan Kapos Pelabuhan sempat memarahi anggotanya yang doyan memberikan kunci area parkir kepada Balam. Anggotanya dimarahi di depan kami, para pangunjung. Kami pun tidak memperpanjang permasalahan ini.

Kejadian serupa juga selalu terjadi bagi pengguna bus atau mobil. Terkadang pintu mobil dibuka, padahal ada pemiliknya di dalam mobil. Kalau kejadian seperti ini tetap dibiarkan, Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo akan sepi wisatawan.

So, buat kalian yang mau ke Pulau Pandang dan Pulau Salah Namo, harus waspada dan tetap berhati hati dalam menjaga badan dan barang kalian.

0 komentar