Kak, Aku Sangat Sayang Samamu

www.bocahudik.com

Aku menyadari kalau kita sudah dewasa. Tak seperti dulu lagi, manja kepada orangtua kita. Kehidupan kita selalu dipenuhi dengan tertawa, gembira, dan aman. Bahkan kadang kita berebut makanan dan mainan hingga terjadi perkelahian. Terasa menyenangkan dan ingin sekali mengulangi hal itu.


"Pak... Tidur ya. Mak... Tidur ya."

Itu lah kalimat yang kita ucapakan setiap malam. Bersuara dengan keras ketika mau tidur. Berlomba-lomba mendapatkan jawaban dari orangtua kita. Dan kalau tidak ada jawaban, kita semakin teriak kencang.

Kita tidak dilahirkan di istana mewah. Tapi tumbuh dan besar di rumah yang mungil. Lahir dan dirawat oleh orangtua yang luar biasa hebatnya. Penuh kasih sayang dan kehangatan.

Permintaan kita selalu dituruti mereka. Mulai mainan yang murah hingga barang berharga.  Aku ingat saat kepalaku berdarah karena kakak pukul pakai cangkir. Itu terjadi karena kita rebutan mainan. Beruntung ada nenek yang melerai kita.

Kakak selalu menjadi pelindungku. Ketika aku ada masalah, kakak selalu pasang badan. Tak peduli lawan jenis apa yang dihadapi, kakak selalu ada buatku. Tak pernah takut sama siapa pun.

Bahkan ketika aku sakit, kakak mengurusi aku seperti saat ini. Kakak selalu menyiapkan makanan buatku. Selain itu selalu mengirimkan pesan whatsapp setiap malam, "Jam berapa pulang? Sudah makan?"

Kita selalu bersama. Mulai duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Kita terpisah saat kuliah karena beda universitas. Tapi kita berangkat dan pulang sama saat mau ke kampus. Bapak mengantar dan menjemput kita.

Di mobil, kita selalu ceria. Bapak memutar lagu lawas. Sementara kita bercengkrama. Tak jarang sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Kita juga pernah bekerja di perusahaan yang sama. Dan itu bukan satu perusahaan saja.

Pernah ada orang yang memfitnahmu. Dan tak tanggung-tanggung fitnahnya karena menyebutkan dirimu sebagai simpanan pria hidung belang. Padahal orang yang fitnah itu adalah adik dari bapak kita. Disitulah aku marah dan murka. Pasalnya kita selalu bersama, berdua.

Aku pernah diusir dari rumah dua kali. Kakak ikut denganku. Kita hidup susah dengan menyewa kamar kecil. Beda dengan rumah kita yang sangat nyaman. Tapi disitulah kita belajar tentang hidup.

Kakak selalu cerita tentang gebetan saat beranjak dewasa. Aku menjadi pendengar budiman dan dewan penasihat asmara. Dan sampai sekarang, aku mengingat lelaki yang mengisi kehidupan kakak. Dia sangat baik, ramah, dan bertanggungjawab. Lelaki yang kakak kenal saat kita pulang dari rumah kakek.

Hidup itu jangan lemah. Harus kuat. Jangan pernah mengagungkan pasangan dengan cinta sepenuhnya. Jangan lemah hanya karena cinta. Bisa hancur. Cinta membuat kita menjadi lemah dan hancur. Cinta yang kuat hanya kepada Tuhan, Allah kita.

We blind ourselves to the truth because we are weak and we hope. But there is no hope for love. Love ends in betrayal. Love is a lie. It is a trick played by the cruel on the foolish and the weak.

Jangan jadi orang bodoh dan penakut. Satu hal yang aku miliki saat ini adalah memiliki seorang kakak yang pemberani. Tapi itu saja tidak cukup.

Dalam hidup, kita harus berbuat baik kepada semua orang. Kemudian kita harus memiliki sifat keras, tak peduli omongan orang, berkemauan yang tinggi, percaya diri, dan yakin.

Kak, melalui tulisan ini, aku ungkapkan rasa sayangku. Aku bangga memiliki seorang kakak sepertimu. Dan aku berharap agar kakak paham dan mengerti maksud dari tulisanku. Tapi kalau sudah dibaca, biasa aja ya. Jangan bersuara. Aku malu.

“To the outside world, we all grow old. But not to brothers and sisters. We know each other as we always were. We know each other’s hearts. We’ve shared private family jokes. We remember family feuds and secrets, family griefs and joys. We live outside the touch of time.”Clara Ortega.

0 komentar