Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Travel Blogger Medan: Air Terjun Saringgana Yang Masih Perawan Dan Belum Terjamah

www.bocahudik.com

Kabupaten Langkat memiliki berbagai kekayaan dan keindahan alam yang berlimpah. Salah satunya daerah Kutambaru Maryke. Disana terdapat Air Terjun Saringgana. Saya berwisata ke Air Terjun Saringgana pada September 2020 kemarin. Tempat wisata impian saya sejak awal tahun lalu. Saya kesana bersama teman-teman menggunakan sepeda motor.

Air Terjun Saringgana berada di Desa Sulkam, Kecamatan Kutambaru Maryke, Langkat, Sumatera Utara. Jaraknya 77 Kilometer dari Kota Binjai. Atau sekitar 3 Jam menggunakan sepeda motor.


Air Terjun Saringgana memiliki ketinggian sekitar 70 meter. Berada di kaki gunung hutan Taman Nasional Gunung Leuser TNGL. Dan dialiri oleh aliran sungai TNGL sepanjang 24 kilometer.

“Kita isi bensin dulu,” Kata Praja pada malam itu.

Ya, sebelum berangkat, saya menunggu rombongan di cafe yang berada di Helvetia Pasar 7. Kami berangkat dari Kota Medan pada malam hari. Kami berkumpul di rumah Bagas sekitar pukul 7 malam terlebih dahulu dan kemudian mengisi bensin di SPBU Pasar 8 Helvetia Medan.

Malam itu udara sangat dingin. Air hujan mulai berjatuhan. Kami belum booking penginapan saat menuju ke Air Terjun Saringgana. Tapi kami tetap memutuskan untuk berangkat kesana meski tak tau jalannya. Hanya menggunakan maps sebagai penunjuk arah jalan.

Rute yang kami pilih adalah Jalan Gatot Subroto menuju Binjai. Kemudian ke arah Bukit Lawang. Setelahnya memilih Desa Sulkam, Kutambaru Maryke, Langkat.

Saat perjalanan, kami berhenti beberapa kali untuk berteduh. Malam itu hujan sangat deras. Kami berteduh di Binjai dan di warung mie sop yang ada di daerah Selesai, Langkat.

Sewaktu beristirahat di warung mie sop tersebut, kami bertanya tentang penginapan. Pasalnya kami belum juga menemukan penginapan. Sementara malam semakin larut dan hujan semakin deras 

“Kalian mau kemana?” Ucap ibu penjual mie sop.

Penjual mie sop tersebut menjelaskan kalau Air Terjun Saringgana masih terlalu jauh. Lokasinya juga tak terlalu ramai. Kalau mau menginap, harus ke arah Bukit Lawang atau Bahorok karena disana banyak penginapan.

“Nginap di rumah ibu ini aja. Dia baik tuh. Suami dan anaknya juga baik,” saran ibu penjual mie sop itu sambil menujuk ke arah temannya.

Ana, namanya. Dia mengijinkan kami untuk tidur di rumahnya. Kami sangat bersyukur karena kebaikannya menerima kami untuk beristirahat di rumah yang hangat tersebut.

www.bocahudik.com


Rumah Bu Ana tak terlalu jauh dari lokasi ibu penjual mie sop tadi. Sampai di rumah, Bu Ana mengenalkan kami ke suaminya. Dan suaminya menyambut kedatangan kami dengan hangat.

"Buatkan minum, bu," kata bapak itu.

Malam itu kami diberikan makanan dan minuman yang lezat. Mereka bercerita tentang kehidupannya sehari-hari. Termasuk suaminya yang merupakan penghulu di KUA Langkat. Suaminya merupakan lulusan Sarjana dari IAIN Medan.

Namun obrolan kurang nyaman karena si ibu gelisah terhadap anaknya yang belum pulang. Si ibu tak fokus karena memikirkan anaknya yang tak ada kabar hingga jam menunjukkan pukul 1 malam.

“Balike aye ke showroom. Ndablek tenan. Ora iso dibilangi,” kata ibu dengan logat Bahasa Jawa.

Kecemasan sang ibu semakin memuncak saat anaknya tak dapat dihubungi.

"Mampus aye lah," ucap Bu Ana.

Dengan sabar, suaminya mencari si anak yang tak pulang. Mencari ke rumah tetangga dan teman-teman si anak. Namun tak ada hasil. Si ibu pun menangis sambil memikirkan anaknya. Alhasil, kami tak bisa istirahat karena merasa sedih lihat Bu Ana.

Keesokan harinya saat kami mau berangkat, si anak pun pulang ke rumah. Sambil membawa bungkusan makanan, dia beri ke adiknya. Bersyukur tak terjadi apa-apa ke dia. Tak seperti yang dibayangkan bu Ana kalau akan terjadi hal buruk.

"Sarapan dulu sama bapak. Ayo makan," kata Bu Ana.

“Rezeki dan hemat banget ya,” Batinku.

Setelah sarapan dan pamitan, Kami pun melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Saringgana. Namun di pertengahan jalan, rantai sepeda motor saya putus. Perjalanan pun tertunda. Selang beberapa menit kemudian, kami lanjutkan perjalanan setelah rantai motor selesai diperbaiki.

www.bocahudik.com


Perjalanan pun terus berlanjut hingga ke Kutambaru Maryke. Jalanan sudah mulai tidak beraspal. Tanah berbatu kerikil, jalanan yang naik dan turun serta jalanan yang rusak parah. Bahkan kami melalui medan yang licin dan becek. Pasalnya saat ke Air Terjun Saringgana, hujan.

Ketika hujan turun, jalan yang dilalui menjadi lebih ekstrim. Kami melewati dua sungai kecil. Perjalanan menuju Air Terjun Saringgana tidak mudah. Tapi disini letak keseruan dari petualangan ini. Sepeda motor milik Midun, teman kami saja sempat bocor ban. Dan kami titipkan di rumah warga.

Beberapa kali kami berhenti karena jalanan yang licin. Lumpur kuning menghiasi sepeda motor kami. Tak jarang selalu jalan di tempat.

“Tadi ada bule ke sana juga. Disana juga ada yang jualan kopi,” ucap seorang bapak yang bekerja sebagai penebang pohon. Mungkin illegal logging.

Sempat ragu dengan tujuan kami. Namun akhirnya sampai juga di Pos Parkiran Air Terjun Saringgana. Dari area tersebut, kami masih melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Saringgana dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit. Trekking ke hutan, naik turun tebing maupun jurang, berjalan dengan bantuan pepohonan, dan lain sebagainya. Tak jarang kaki kami dipenuhi dengan pacet. Hewan penghisap darah.

www.bocahudik.com

www.bocahudik.com


Sampai di lokasi, tak ada satu orang pengunjung pun selain kami berenam. Dan tak ada penjual makanan dan minuman seperti yang bapak tadi bilang. Ternyata dia berbohong.

“Sial,” Batinku. Padahal kami sudah kelaparan.

Dalam setiap perjalanan wisata air terjun, memang dibutuhkan adrenalin tinggi untuk mampu menaklukkannya. Namun, semua itu terbayarkan dengan hasil akhir yang dinikmati begitu sampai di Air Terjun Saringgana. Keindahan panorama air terjun yang sangat indah dan eksotik, benar-benar membius para pengunjung dan membuat enggan untuk beranjak pergi.

Sekitar pukul 4 sore, kami bergegas untuk pulang. Trekking di hutan dan hujan yang lebat menyebabkan tanah menjadi becek dan berlumpur. Kami pun harus lebih waspada agar tidak terpleset ke jurang. Selesai sudah trekking dan sampai di parkiran.

Belum lagi menaiki sepeda motor dan melewati jalanan berlumpur, licin dan ekstrim. Hal tersebut membuat kami sulit untuk memacu sepeda motor. Akhirnya kami dorong-dorongan sepeda motor agar bisa jalan.

Tips Untuk Berwisata ke Air Terjun Saringgana

-          Bawa bekal makanan dan minuman
-          Periksa kendaraan
-          Jangan datang di hari hujan karena jalanan licik dan becek atau sangat ekstrim.
-          Bawa barang seperlunya saja.

1 comment for "Travel Blogger Medan: Air Terjun Saringgana Yang Masih Perawan Dan Belum Terjamah"

  1. Wah seruuu yaa. Saya pernah ke Maryke, tapi gak sampai air terjun. Jd hanya sampai di sumber mata air panas. Moga saya bisa ksana 🙏😀

    ReplyDelete