Travel Blogger Batam: Dianggap Sampah, Kini Rumput Laut Menjadi Penopang Ekonomi Masyarakat Pulau Babi


Saya beruntung bisa mengunjungi Pulau Babi, Batam. Betapa tidak, di pulau ini masih banyak terdapat masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan. Bahkan informasi saja pun tak tersalurkan dengan baik. Salah satunya tentang budidaya rumput laut.

Nah, saya ke Pulau Babi bersama Arfan. Salah satu teman yang baru saya kenal di Batam. Kami berangkat ke Pulau Babi dari Pelabuhan Sekupang menuju Pulau Penawar Rindu, Belakang Padang. Transportasi yang digunakan adalah boat. Biaya yang kami keluarkan Rp 32 ribu untuk dua orang.

Setelah sampai di Belakang Padang, kami bertemu dengan bang Kafi. Dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pulau Babi. Sebenarnya bisa langsung dari Pelabuhan Sekupang menuju Pulau Babi, namun kita harus menyewa boat. Dan biayanya pun sedikit mahal.

Tiba di Pulau Babi, kami pun menemui Ibu Ampriyanti Khapor. Koordinator petani rumput laut disana. Dengan ramah, dia mengajak kami keliling menemui para petani rumput laut. Rengkam, itulah sebutan untuk rumput laut.

"Ini rengkam yang mahal," kata Ampriyanti.

Rumput laut merupakan salah satu komoditas yang menjanjikan di pasar ekspor. Di kota Batam, rumput laut hanya diberdayakan di Pulau Babi. Itu sih pengetahuan saya saja. Pasalnya belum pernah tau selain di Pulau Babi.



Rumput laut memiliki peran besar dalam kuliner Asia khususnya Asia Timur seperti Jepang, korea, dan Tiongkok. Sementara untuk negara di Asia Tenggara seperti Indonesia juga mengonsumsi rumput laut namun tak sebanyak negara Asia Timur.

Karena karang dikonsumsi, masyarakat menganggap rumput laut hanyalah satu jenis tanaman yang berasal dari laut. Bahkan terkadang dianggap sebagai sumber penghasil sampah laut dan mengganggu aktivitas para nelayan mencari ikan.

"Kami taunya ini bisa dikonsumsi dari Hazhari," ucap Ampriyanti.

Ya, beliau merupakan pelopor penggerak roda ekonomi bagi masyarakat di Pulau Babi. Awalnya yang dianggap sampah, kini dijadikan usaha. Kemudian kami diajak melihat proses pembuatan rumput laut. Prosesnya pun memakan waktu yang tak singkat.

Awalnya rumput laut dibersihkan terlebih dahulu setelah dipanen dari laut. Kemudian dibersihkan dan dikeringkan. Proses pengeringan menggunakan sinar matahari. Kalau cuaca panas, maka bisa kering selama dua hari. Namun jika cuaca tak bagus, akan memakan waktu pengeringan lebih dari dua hari.

Selain itu, rumput laut dijemur di atas para-para. Tak boleh ditumpuk begitu saja. Harus sering dibalik agar kering dengan sempurna. Bisa juga dijemur dengan cara digantung. Untuk yang sudah kering, bisa ditandai dengan keluarnya garam.

Setelah garam keluar, rumput laut dicuci dan dibersihkan lagi. Lalu dilakukan proses pengeringan yang kedua. Jika sudah kering, rumput laut dimasukkan ke dalam karung.



"Ini dari 7 kilo saat basah, jadi 1 kilo beratnya kalau kering," kata Ampriyanti.

Rumput laut yang sudah dikarungkan, diletakkan di dalam gudang. Setelah itu akan digiling menggunakan mesin penggilingan. Di Pulau Babi hanya ada satu mesin penggiling rumput laut. Itu pun hasil dari CSR perusahaan.

Nantinya ketika rumput laut sudah digiling, para petani rumput laut mengekspor ke Tiongkok. Disana, rumput laut dijadikan bahan makanan seperti mie, agar-agar, bahkan kosmetik.

"Kemarin kita ekspor 75 ton. Mereka buat mie rasa sirip ikan hiu," ujar Ampriyanti.

Harga jual rumput laut sangat menjanjikan bagi masyarakat Pulau Babi. Mereka menjual rumput laut dengan harga Rp 20 ribu per kilogram. Angka tersebut sangat besar bagi mereka. Pasalnya masyarakat Pulau Babi tidak memiliki penghasilan tetap.

Awalnya, masyarakat Pulau Babi hanya bekerja sebagai nelayan. Namun hasilnya hanya untuk dikonsumsi pribadi, tidak untuk dijual ke khalayak ramai atau pasar.

Saya tak habis pikir tentang pendidikan mereka atau anak-anak mereka. Bagaimana biaya pendidikannya kalau cuma hasil lautnya dikonsumsi untuk pribadi.

"Biaya pendidikan kan dari bantuan pemerintah," katanya.

Seiring berjalannya waktu, mereka pun sadar akan pendidikan. Kini beralih menjadi petani rumput laut. Namun tak meninggalkan pekerjaan sebagai nelayan ikan.


Sekilas Pulau Babi

Pulau Babi merupakan nama pulau di wilayah Batam, Kepualaun Riau. Saat ini nama Pulau Babi sudah beralih menjadi Pulau Amat Belanda.

Dinamakan Pulau Babi karena dahulunya pernah ada warga yang memelihara babi. Namun karena konotasinya tidak baik, maka diubah menjadi Pulau Amat Belanda.

Nama Amat Belanda diambil karena dahulu ada seorang yang bernama Amat yang wajahnya mirip dengan orang Belanda. Pulau ini pernah dijadikan sebagai tenpat lokalisasi warga negara Singapura dan pelaut.

Namun kini tempat lokalisasi tersebut sudah tergerus oleh waktu. Kesan buruk dari pulau ini sudah berangsur hilang. Kini masyarakat sudah memiliki penghasilan yang baik.

Ironisnya meski penghasilan mereka sudah baik, infrastruktur ke Pulau Amat Belanda sangat minim. Hanya menggunakan transportasi laut seperti boat dengan harga yang tidak murah.

Bahkan mereka meminta kepada pemerintah untuk membangun jalan penghubung dari Pulau Amat Belanda ke Pulau Belakang Padang. Pasalnya kalau naik boat dari dan menuju Pulau Amat Belanda dikenakan Rp 20 per orang dengan sekali penyebrangan. Jadi kalau pergi pulang akan dikenakan Rp 40 ribu per orang.

Jumlah tersebut sangat mahal. Mereka memiliki anak yang harus ke Belakang Padang untuk sekolah dan juga harus ke pasar demi kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya jembatan penghubung, maka biaya tersebut bisa digunakan untuk yang lain.

0 komentar