Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perlindungan Lingkungan Untuk Bumi Yang Lebih Baik


“Akhir-akhir ini kenapa terasa panas ya?” keluh Raffa.

Ya. Memang beberapa hari ini, iklim di Kota Medan terasa sangat panas. Bahkan tak peduli di ruangan ber-AC sekali pun, panasnya sudah tidak normal lagi. Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim dan pemanasan global yang cukup parah.

Hampir setiap hari, saya mendengar tentang kabar buruk yang menghantui bumi. Mulai dari mencairnya es di kutub, hutan yang semakin gundul, serta banyaknya sampah di laut.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 657 bencana di Indonesia mulai periode 1 Januari hingga 1 Maret 2021. Berdasarkan keterangan dari BNPB, kejadian bencana alam yang mendominasi adalah bencana banjir serta diikuti dengan puting beliung dan tanah longsor.

Secara rinci, ada sebanyak 12 kejadian gempa bumi, 58 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), satu peristiwa kekeringan, 304 kejadian banjir, 130 kejadian tanah longsor, 141 peristiwa puting beliung dan 11 kejadian gelombang pasang dan abrasi.

Bencana alam menyebabkan sebanyak 3.421.871 orang terdampak dan mengungsi, sedangkan sebanyak 271 jiwa meninggal dunia, dan 11 orang yang hilang, serta 12.131 jiwa luka-luka. Sementara itu, bencana alam juga mengakibatkan 53.287 unit rumah rusak yang terdiri atas 4.816 unit rumah rusak berat, 5.765 unit rumah rusak sedang, dan 42.706 rumah rusak ringan.

Selain itu, sebanyak 1.686 fasilitas rusak yang meliputi 854 fasilitas pendidikan, 650 fasilitas peribadatan, dan 182 fasilitas kesehatan. Kemudian, sebanyak 288 kantor dan 88 jembatan rusak.

Disamping bencana alam, pada 13 April 2020 pemerintah menetapkan penyebaran COVID-19 sebagai bencana nasional non alam.

Namun ironisnya, kita sebagai manusia tidak menyadari hal itu. Banyak ilmuan yang menyebutkan bahwa kondisi krisis iklim dipengaruhi oleh prilaku kita, manusia. Baik prilaku secara individu, sosial, ekonomi serta model produksi dan konsumsi.

Prilaku kita tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap diri kita, namun juga terhadap bumi. Ya, saat ini kondisi bumi sedang tidak baik-baik saja. Terutama kenaikan suhu bumi. Jika dibandingkan dengan tahun 1860 hingga sekarang, kondisi suhu bumi naik mendekati 1,5 derajat celcius.



Saya pun berbincang mengenai permasalahan tersebut dengan Raffa, teman di kantor saya. Permasalahan yang sesuai dengan pertanyaan dia tadi. Sambil melihat tayangan Youtube, kami mencari tahu tentang kepastian penyebab iklim bumi yang tidak sehat. Maklum, kami masih kurang paham dengan hal beginian.

“Nah, itu Walhi. Coba lihat!” kata Raffa.

Walhi adalah organisasi gerakan lingkungan hidup independen non profit terbesar di Indonesia. Mulai 1980 sampai saat ini, Walhi mendorong upaya peyelamatan dan pemulihan lingkungan hidup di Indonesia secara aktif.

Saat itu, pembicara di tayangan Youtube Walhi adalah Manager Kampanye Keadilan Iklim Walhi, Yuyun Harmono. Beliau menjelaskan tentang kondisi krisis iklim dan peran kita untuk mengatasi krisis tersebut. Topik yang sangat menarik menurut kami.

Ternyata dampak kenaikan suhu bumi sangat luar biasa. Di Indonesia sudah mendekati atau melewati 1 derajat celcius. Kalau melewati ambang batas suhu bumi 1,5 derajat celcius, maka akan terjadi pemusnahan terhadap ekosistim penting yang mendukung kehidupan manusia. Bukan hanya bumi yang terganggu tapi eksistensi manusia yang terancam akibat perubahan iklim. Suhu laut dan keasaman laut meningkat, kenaikan air laut semakin cepat terjadi dan tentu berkonsekuensi terhadap masyarakat pesisir. Termasuk keamanan dan eksistensi tempat tinggal dan kehidupan mereka.


Pemanasan global akibat ulah manusia telah mencapai 1 derajat celcius pada tahun 2017 dibandingkan masa pra industri. Angka tersebut terus meningkat 0,2 derajat celcius setiap 10 tahun. Jika emisi global terus meningkat dengan kecepatan seperti saat ini, pemanasan global akibat ulah manusia akan melewati batas 1,5 derajat celcius pada tahun 2040 mendatang.



Naiknya suhu hingga 1,5 derajat celcius akan mengakibatkan pemusnahan yang tidak terhindari, terutama bagi pulau-pulau kecil dan memicu berkurangnya melakukan adaptasi. Dampaknya akan memperburuk negara tropis dan sub tropis bumi bagian selatan.

"Bencana di Indonesia sebagian besar terjadi akibat perubahan suhu, angin, dan perubahan iklim. Awalnya dipicu oleh iklim sehingga tren 10 tahun terakhir sebagian besar bencana di Indonesia terjadi hidrometeorologi,” papar Yuyun.

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameternya. Ya, sesuai sengan data BNPB tersebut. Saya dan Raffa menatap satu sama lain. Mengisyaratkan bahwa paparan dari Yuyun tersebut menyadarkan kami.

Geografis Indonesia memang rentan terhadap perubahan iklim karena negara kepulauan. Namun malang, kita juga berkontribusi terhadap meningkatnya krisis iklim terutama sektor berbasis lahan seperti pertanian, kehutanan, kebakaran hutan dan lahan gambut karena melepaskan gas rumah kaca.

Contoh kecil adalah sektor energi. Baru-baru ini, penggunaan energi fosil masih diberikan ijin seperti tambang batu bara. Diprediksi untuk 10 tahun ke depan, sektor energi akan terus menjadi penyumbang emisi terbesar sehingga perubahan iklim semakin parah.

“Dalam upaya melakukan mitigasi perubahan iklim, ada beberapa prisnip energi berkeadilan. Seperti menyediakan akses energi, teknologi yang aman dan tersedia secara lokal agar efek tidak terlalu besar, kontrol masyarakat terhadap penyediaan energi, hak pekerja sektor energi terpenuhi, free prior and informed consent harus dipastikan, dan penggunaan energi yang seimbang,” ucap Yuyun.

Membangun energi berkeadilan itu termasuk merawat hutan. Sumber Daya Alam dan keanekaragaman hayati menjadi konteks transisi. Menjaga hutan, salah satunya yang bisa berimbas terhadap keuntungan kita semua. Pasalnya ketika hutan dirusak, tentu berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Kelestarian hutan harus dijaga karena bisa mengatasi krisis iklim yang terjadi. Indonesia merupakan salah satu negara pemilik hutan terbesar secara geografis dan penting dijaga untuk ancaman ekspansi seperti industri perkebunan sawit atau kayu. Atau bahkan ekspansi industri tambang. Menjaga hutan agar tetap lestari merupakan hal penting sebagai upaya mitigasi perubahan iklim, sekaligus memberikan pengakuan atas akses dan hak kepada masyarakat lokal melalui skema hutan adat dan perhutanan sosial.

“Kebijakan ini harus didorong dan pemerintah sudah mulai. Kenapa penting masyarakat langsung? Karena mereka memberikan keuntungan lingkungan seperti memberikan ketersediaan pangan atau air.” tutup Yuyun.

Hutan adalah jawaban dalam konteks perubahan iklim. Salah satu aset terbesar di Indonesia adalah hutan. Dari 29% target menurunkan gas rumah kaca, kontribusi hutan sebesar 17,2%.



Berbicara tentang hutan, saya dan Raffa mencari tahu tentang hutan di Indonesia. Kami pun menemukan data terkait hutan dan deforestasi Indonesia.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Hidup (Ditjen PKTL) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), deforestasi Indonesia turun 75,03% di periode 2019 - 2020 pada angka 115,46 ribu hektare. Angka tersebut berasal dari deforestasi bruto sebesar 119,1 ribu hektare dikurangi dengan reforestasi 3,6 ribu hektare.

Untuk deforestasi tertinggi berada di hutan sekunder sebanyak 104,4 ribu hektare, dimana 58,1% atau 60,64 ribu hektare ada di dalam kawasan hutan. Sisanya seluas 43,7 ribu hektare atau 41,9% berada di luar kawasan hutan.

Sementara itu, deforestasi neto pada 2018 - 2019 sebanyak 462,46 ribu hektare. Angka tersebut berasal dari 465 ribu hektare deforestasi bruto yang dikurangi dengan reforestasi 3 ribu hektare.

Penurunan deforestasi merupakan pembuktian konsistensi pemerintah untuk mengurangi deforestasi dari tahun ke tahun. Tahun 2020 menunjukkan bahwa luas lahan berhutan seluruh Indonesia adalah 95,6 juta hektare atau 50,9% dari total daratan, dimana 92,5 % dari total luas berhutan atau 88,4 juta hektare berada dalam kawasan hutan.

ADOPSI HUTAN

Adopsi pohon atau adopsi hutan adalah mengambil dan menanam pohon untuk mengapresiasi kehidupan alam liar serta merawat dan menjaganya atau melestarikan pohon-pohon tersebut. Selain itu melakukan gerakan mendonasikan sejumlah dana untuk penjagaan pohon yang sudah berusia hingga ratusan tahun.

Dalam pelaksanaannya, program adopsi hutan melibatkan masyarakat sekitar dalam perawatan dan pelestarian hutan tersebut. Mengadopsi pohon atau adopsi hutan berarti ikut mengurangi potensi hilangnya pohon dan membantu dalam menciptakan sumber penghidupan alternatif bagi masyarakat yang menjaga hutan. Tindakan nyata untuk melindungi hutan, juga keanekaragaman hayati.

Tanpa disadari, ekosistim di Indonesia tetap terjaga dan seimbang. Kita bisa menikmati oksigen. Adopsi hutan dinilai dapat menjaga kelestarian bumi dan mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Pasalnya karhutla merugikan bangsa Indonesia dan memicu keributan pada dunia. Saat ini, Hutan Itu Indonesia (HII) terus menyuarakan kampanye jaga hutan, cerita dari hutan, adopsi pohon, dan lainnya.



"Kegiatan yang sangat positif yang harus ditiru generasi muda.” pikirku.

Saya dan Raffa pun berencana untuk mengadopsi hutan atau adopsi pohon. Kami berpikiran kalau bukan dari diri sendiri dalam memberikan perlindungan lingkungan untuk bumi yang lebih baik, siapa lagi? Kalau bumi bisa memberikan yang terbaik buat manusia, kenapa kita merusak dan tidak merawatnya? Bumi atau hutan tidak butuh manusia tapi kita lah yang bergantung kepada mereka.

JADILAH GENERASI LESTARI DAN MULAI DARI DIRI SENDIRI UNTUK MERAWAT BUMI YANG LEBIH BAIK

  • Menjaga fungsi alam tanpa bencana.
  • Memastikan kehidupan petani atau pekerja sejahtera.
  • Bertanggungjawab dalam penggunaan energi atau limbah.
  • Gunakan produk yang ramah lingkungan.

HARI BUMI

Hari Bumi diperingati setiap tanggal 22 April. Peringatan Hari Bumi dicanangkan oleh pengajar lingkungan Amerika Serikat, Gaylord Nelson pada 1970. Sejarah Hari Bumi dimulai pada tahun 1960an hingga 1970an dimana pada saat itu Amerika Serikat sedang mengalami gejolak ekonomi dan politik.

Selain itu pernah terjadi kebakaran besar di Sungai Cuyahoga, Cleveland yang disebabkan oleh pembuangan limbah kimia ke sungai. Tragedi inilah yang mendorong orang untuk melindungi sumber daya alam.

Kemudian pada 1969, mulai bermunculan aktivis peduli lingkungan yang berfokus pada isu-isu pencemaran lingkungan berskala besar, seperti polusi udara yang disebabkan pabrik dan pembuangan limbah yang belum diatur secara ketat. Hanya sedikit masyarakat Amerika pada tahun itu yang mengenal istilah daur ulang.

Pada tahun 2021, Tema Hari Bumi mengusung "Restore Our Earth" atau "Pulihkan Bumi Kita". Sebagaimana dikutip laman earthday dot org, tema Hari Bumi tahun ini berfokus pada proses alam, teknologi hijau yang sedang berkembang, dan pemikiran inovatif yang dapat memulihkan ekosistem dunia. Tema ini menolak anggapan bahwa mitigasi atau adaptasi adalah satu-satunya cara untuk mengatasi perubahan iklim

Memulihkan Bumi kita bukan hanya karena kita peduli dengan alam, tetapi karena kita hidup di atasnya. Kita semua membutuhkan Bumi yang sehat untuk mendukung pekerjaan, mata pencaharian, kesehatan dan kelangsungan hidup, dan kebahagiaan kita. Planet yang sehat bukanlah pilihan. Itu adalah kebutuhan.

Saat ini, lebih dari 1 miliar orang di 192 negara berpartisipasi dalam kegiatan Hari Bumi setiap tahun. Hari Bumi dijadikan peringatan sipil terbesar di dunia. Untuk itu, mari kita rayakan Hari Bumi pada 22 April mendatang. Mari selamatkan diri kita dengan cara merawat dan menjaga bumi.

Bumi tanpa manusia masih bisa hidup, namun manusia tanpa bumi akan mati. Lestarikan bumi, hindari polusi. Bumi adalah titipan anak dan cucu kita, mari jaga kelestariannya dengan penuh rasa cinta.

5 comments for "Perlindungan Lingkungan Untuk Bumi Yang Lebih Baik"

  1. Adopsi pohon adalah langkah kecil yang bisa dilakukan manusia untuk menjaga kelestarian bumi. Kalo aja tiap orang paham, insyaAllah gerakan ini dapat efektif untuk reforestasi dalam jumlah besar. Makasi udah mengingatkan bang.

    ReplyDelete
  2. Nampaknya sepele ya kak, cuma satu atau satu setengah derajat kenaikannya. Tapppiiiii dampaknya luar biasa. Bisa menghilangkan ekosistem tertentu.
    Memang kalo lihat industri batubara di Indonesia luar biasa ngerinya. Efek ke lingkungan dan penduduk sekitar buruk sekali. Hanya taipan yang menuai hasilnya.
    Yup saatnya hutan disayangi.

    ReplyDelete
  3. adopsi hutan emang cara efektif klo semua penduduk indonesia ikut andil dan melakukannya serentak di seluruh nusantara bang. karena klo udh menyangkut iklim, itu udah jadi masalah bersama.

    ReplyDelete
  4. Saya mencintai lingkungan seperti mencintai diri saya sendiri, beberapa langkah kecil saya adalah menggunakan produk ramah lingkungan, pengolahan limbah serta bijak menggunakan energi listrik dan tidak lupa menjaga hutan agar lestari

    ReplyDelete
  5. fyi buat searching informasi bisa pakai ecoasia bang, itu menyumbangkan beberapa dananya untuk keberlangsungan hidup hutan CMIIW yang bisa mengusahakan kebaikan kita dimasa depan adalah diri kita sendiri hehe dimulai dr pilah sampah, dan mengurangi sampah plastik, it works bgt

    ReplyDelete