Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Inilah Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan serta Penyakit Yang Ditimbulkan

www.bocahudik.com


"Kebakaran hutan dan lahan merupakan bencana tahunan," kata Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara, Dedy Sukmara.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Sedikitnya terdapat 1.600 pulau dari Sabang sampai Merauke. Pada tahun 2020, ada sekitar 95,6 juta hektare luas lahan berhutan yang terdapat di daratan Indonesia. Dimana, 88,4 juta hekatare berada dalam kawasan berhutan.

Deforestasi netto pada tahun 2019 - 2020 baik di dalam maupun di luar kawasan hutan di Indonesia sebesar 115,5 ribu hektare. Angka tersebut berasal dari jumlah bruto sebesar 119,1 ribu hektare dikurang angka reforestasi sebesar 3,6 ribu hektare.

Luas deforestasi tertinggi ada di kelas hutan sekunder, yakni 104,4 ribu hektare. 58,1 % dari angka tersebut atau 60,64 ribu hektare berada di dalam kawasan hutan. Sedangkan sisanya 43,7 ribu hektare atau 41,9% berada di luar kawasan hutan.


Sementara hasil pemantauan hutan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa deforestasi netto pada tahun 2018 - 2019 baik di dalam maupun di luar kawasan hutan Indonesia sebesar 462,5 ribu hektare. Jumlah tersebut berasal dari angka deforestasi bruto sebesar 465,5 ribu hektare dikurangi dengan reforestasi sebesar 3 ribu hektare.

www.bocahudik.com


Dengan memperhatikan pemantauan tahun 2020 dan 2019 dapat disimpulkan bahwa secara deforestasi netto Indonesia terjadi penurunan 75%. Demikian pula dengan deforestasi bruto yang terjadi penurunan sebesar 74,4%.

Namun ironisnya, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia selalu terjadi setiap tahun. Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada dua tahun lalu menjadi salah satu permasalahan yang paling mengkhawatirkan selama dua dekade terakhir.

Ada dua penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Faktor alam dan manusia. Alam berisiko menjadi penyabab kebakaran hutan karena musim kemarau atau erupsi gunung, sedangkan manusia menjadi faktor penyebab kebakaran hutan karena faktor ekonomi dan rasa tak peduli terhadap alam.

ALAM
  • Musim kemarau yang panjang
  • Petir
  • Letusan Gunung

MANUSIA
  • Ekonomi
  • Pembukaan lahan
  • Penebangan pohon
  • Illegal Logging
  • Perambahan hutan (migrasi penduduk dalam kawasan hutan)
  • Rasa tak peduli dengan alam (merokok dalam hutan, api unggun).


Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan

Data pemerintah menunjukkan hutan dan lahan seluas 1,6 juta hektare hangus dilalap api. Peristiwa tersebut menjadi yang terparah dari bencana asap pada tahun 2015 lalu.

Akibat kejadian tersebut, pemerintah selalu menjadi sorotan dunia. Asap akibat kebakaran hutan kerap memanaskan hubungan diplomatik dengan negara tetangga.

"Indonesia menjadi sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca di dunia," ucap Dedy.

Kemarau panjang atau el nino selalu dituding sebagai pemicu kebakaran. Faktanya, kebakaran hutan dan lahan terus terjadi. Bahkan di tahun-tahun kemarau panjang.

Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia (Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)

Tahun 2016: 438.363,19     hektare.
Tahun 2017: 165.483,92     hektare.
Tahun 2018: 529.266,64     hektare.
Tahun 2019: 1.649.258,00  hektare.
Tahun 2020: 296.942,00     hektare.
Tahun 2021: 28.869,00       hektare.

Kebakaran hutan dan lahan yang selalu terjadi menjadi penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Kebakaran pada tahun 2015, misalnya. Indonesia melepaskan banyak karbon ke atmosfer dibandingkan dengan total emisi tahunan negara ekonomi besar seperti Jepang dan Inggris. Pada tahun 2019, kebakaran hutan melepas emisi gas rumah kaca CO2e yang sangat tinggi sebanyak 708 ton. Hampir dua kali lipat lebih besar pada kebakaran di Amazon, Brazil.

www.bocahudik.com


Selain penyumbang emisi terbesar, dampak dari kebakaran hutan dan lahan adalah musnahnya satwa liar dan tanaman. Banyak spesies endemik di suatu daerah yang ikut musnah.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki data dampak kebakaran hutan di Kalimantan pada 1998. Hasilnya, 90 persen jumlah pohon per hektare atau mencapai 240 pohon mati akibat kebakaran.

Lokasi yang terbakar menyebabkan terbukanya lahan sehingga lahan terpapar matahari langsung. Dengan demikian menurunkan fungsinya penyedia unsur hara bagi tumbuhan di atasnya, meregenerasi hutan. Masalah lain, kebakaran juga membuat biji tumbuhan yang diharapkan akan tumbuh di musim hujan, mati.

Banjir juga salah satu dampak akibat kebakaran hutan. Menurut pantauan BPBB, kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2019 menjadi salah satu faktor penyebab banjr bandang di Bondowoso. Saat itu tercatat sebanyak 200 keluarga terdampak banjir.

Selain itu ada banyak dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Belum lagi berbicara tentang kekeringan dan penyakit yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan.

Wabah atau Penyakit yang Ditimbulkan

"Deforestasi berpengaruh kepada kesehatan. Bisa juga kepada kesehatan mental," ucap Direktur Klinik Alam Sehat Lestari, dr. Alvin Muldani.

Pandemi terutama yang disebabkan Zoonosis berkaitan dengan kerusakan hutan. Selain SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19, beberapa zoonosis atau penyakit pada binatang dapat ditularkan ke manusia seperti Zika yang terjadi di Brasil, Ebola dan HIV yang merebak di Afrika, SARS yang merebak di China.

www.bocahudik.com


Deforestari adalah hal nyata dan tidak hanya terjadi di luar negeri, tapi juga di Indonesia.Contohnya di Kalimantan, hanya di bagian tengah yang kondisi hutannya masih baik, di Papua, setidaknya 75 persen hutannya masih baik.

Kerusakan hutan dan deforestasi menyebabkan manusia dan satwa liar menjadi dekat. Saat hidup manusia hanya bergantung pada berburu dan bertani, kondisi hutan masih cukup baik. Namun ketika pertambangan, logging, deforestasi, pertambahan populasi, urbanisasi, pembangunan jalan, produksi pangan, dan perubahan iklim terjadi, manusia semakin berdekatan dengan satwa liar.

Kebakaran hutan dan lahan memang sering terjadi di Indonesia setiap tahun. Kabut asap akibat kebakaran hutan dapat mendatangkan penyakit.

Sebut saja ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas). ISPA merupakan saluran infeksi yang mengganggu saluran pernafasan. Penyakit ini menyebabkan tubuh kekurangan oksigen dan bisa mematikan jika tak ditangani dengan cepat.

Manusia yang menghirup asap kebakaran hutan, rentan terkena ISPA. Pasalnya sap dari kebakaran hutan mengandung zat yang berbahaya, dimana ada bakteri yang mengganggu kesehatan.

www.bocahudik.com


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kesehatan per 16 September 2019 mencatat setidaknya 144.219 ribu warga di Sumatera dan Kalimantan terkena ISPA.

Kota Palembang menjadi kota dengan penderita ISPA terbanyak yakni 76.236 penderita, periode Maret hingga September. Kedua diduduki oleh Provinsi Kalimantan Barat dengan jumlah penderita ISPA sebanyak 15.468 periode Juli 2019. Selanjutnya, Provinsi Riau dengan 15.346 penderita ISPA periode 1 hingga 15 September 2019.

Kemudian, disusul Provinsi Jambi dengan penderita ISPA sebanyak 15.047 pada Juli hingga Agustus 2019. Lalu, Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Banjarbaru, tercatat, setidaknya 10.364 penderita ISPA periode Juni hingga Agustus 2019.

Selain ISPA, manusia yang terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan bisa berisiko terkena penyakit jantung. Kabut asap membawa partikel PM2,5 atau pertikel berukuran mini yang dapat menembus masker penutup mulut dan hidung. Hal tersebut berdasarkan studi dari California Environmental Protection Agency pada tahun 2014.

Kemudian ada penyakit asma yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Kualitas udara yang tak sehat dan buruk menyebabkan manusia terkena asma.

Dampak kebakaran hutan menurut studi di Pekanbaru akan meningkatkan risiko kasus TB selama setelah kebakaran hutan. Saat itu terjadi peningkatan indeks NO2 yang lebih berisiko dari PM10 dan SO2.

Zat-zat tersebut akan terhirup ke dalam paru dan akan dibawa darah ke sekuruh sistim tubuh. Dampaknya akan luas sampai ke fungsi imunitas lainnya. Saat terkena virus, akan meningkatkan risiko kematian dan penularan.

Jadi di era pandemi ini, daerah-daerah kebakaran hutan yang kasus COVID-19 nya rendah akan memudahkan terjadinya perluasan pandemi. Membuat kasus akan meningkat. Terlebih menurut prediksi, pandemi akan berlangsung sampai tahun 2022 mendatang.

Menurut data KLHK terjadi penurunan luas area terbakar sebesar 52,8% pada periode 1 Januari hingga 31 Juli 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019. Jadi, kebakaran harus dicegah agar pandemi tak semakin buruk.

www.bocahudik.com


Dengan adanya dampak dan wabah penyakit yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan dan lahan, mari kita selamatkan bumi ini. Saya beruntung bisa bergabung dengan Eco Blogger Squad dari Blogger Perempuan Network.

Saya mendapatkan ilmu saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tanggal 5 Juni 2021 kemarin. Saat itu, pematerinya adalah Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara, Dedy Sukmara dan Direktur Klinik Alam Sehat Lestari, dr. Alvin Muldani.

Ada kaitannya antara kebakaran hutan dan lahan dengan wabah penyakit. Terutama saat ini sedang pandemi COVID-19. Jadi, mari kita selamatkan lingkungan kita. Kita selamatkan bumi kita. Bumi akan memberikan hal yang paling baik jika kita memberikan yang terbaik kepadanya.

Cara Mudah Berpartisipasi dalam Menyelamatkan Lingkungan Hidup

Meskipun sederhana, namun jika dipraktikkan oleh setiap orang, dapat memberikan efek yang sempurna dalam usaha penyelamatan lingkungan hidup.

Semakin hari, bumi dan lingkungan semakin memburuk. Degradasi lingkungan terus terjadi dan cenderung meningkat karena manusia tak peduli dan selalu melakukan kegiatan yang kurang ramah lingkungan.

Padahal dengan hal sederhana dan kecil,  kita dapat turut serta dalam upaya penyelematan lingkungan hidup. Inilah hal sederhana yang bisa dicoba:

  • Hemat Air

Indonesia merupakan negara dengan sumber daya air yang melimpah namun nyatanya belum mampu memanajen air secara baik. Hampir setiap musim penghujan, berkah air justru menjadi musibah banjir sedangkan di musim kemarau memunculkan musibah kekeringan di berbagai daerah. Cara menghemat air di rumah dan membuat sumur resapan serta membuat biopori, bisa menjadi sumber inspirasi untuk turut serta menyelamatkan lingkungan dengan berhemat air.

  • Menanam Pohon

Pohon menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen rata-rata 1,2 kg perhari/batang. Manusia membutuhkan oksigen untuk bernafas sebesar 0,5 kg perhari/orang. Pohon juga menyerap dan menyimpan air hujan untuk menghidari banjir dan menjadikannya sebagai air tanah, cadangan air hingga musim kemarau tiba. Pohon juga menjadi habitat bagi berbagai organisme yang membentuk keseimbangan alam dengan jaring-jaring makanannya. Berbagai manfaat pohon tersebut menempatkan kegiatan menanam pohon sebagai salah satu bentuk nyata dalam menyelamatkan lingkungan.

  • Hemat Listrik

Konsumsi listrik yang hemat menjadi salah satu hal bijak yang bisa dilakukan dengan mudah. Meskipun terlihat mudah, menghemat listrik akan memberikan dampak yang besar terhadap penyelamatan lingkungan hidup, terutama di Indonesia. 80 persen sumber energi listrik di Indonesia masih bergantung pada energi berbahan fosil, bukan energi terbarukan. Semakin tinggi penggunaan energi berbahan fosil akan semakin meningkatkan pemanasan global.

  • Hemat Kertas

Bahan utama pembuatan kertas adalah pohon. Dibutuhkan 1 batang pohon untuk membuat 15 rim kertas ukuran A4. Padahal hampir 70% bahan baku kertas diambil dari hutan.

  • Kurangi Penggunaan Kendaraan Bermotor

Kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber pencemaran udara terbesar. Selain itu menjadi pemicu pemanasan global. Kendaraan bermotor di seluruh dunia diperkirakan menghasilkan emisi karbon hingga 2 miliar pertahun dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor bisa dilakukan dengan beralih menggunakan kendaraan non motor seperti sepeda atau memilih moda transportasi umum.

  • Terapkan 3R

Penerapan 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) menjadi hal yang paling baik untuk meminimalkan sampah. Reuse atau menggunakan kembali barang yang masih bisa dimanfaatkan, reduce atau mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah, serta recycle atau melakukan daur ulang sampah.

  • Kurangi Pemakaian Plastik

Plastik dibuat dari bahan yang tidak ramah lingkungan. Saat tidak terpakai dan menjadi sampah, plastik menjadi benda yang membutuhkan ratusan tahun untuk bisa terurai oleh tanah. Hal ini memberikan dampak negatif pada lingkungan. Mengurangi pemakaian plastik berarti ikut serta dalam penyelamatan lingkungan.

Bumi masih menjadi satu-satunya planet yang bisa dihuni oleh manusia. Perlu kepedulian untuk menyelamatkannya agar bumi tetap bisa dihuni dengan nyaman oleh kita, anak hingga cucu-cicit kita karena Bumi adalah titipan mereka.

www.bocahudik.com


6 comments for "Inilah Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan serta Penyakit Yang Ditimbulkan"

  1. Semakin sikit aja hutan kita ya bg..
    Dah jd lahan kebun dan kebakaran pulak. Saat Medan kena dampak asap kebakaran hutan, kami sempat sesak kl naik kreta dijalan

    ReplyDelete
  2. Wah ikut online gathering lagi ya Alfie... mantaplahh... hmm tahun 2019 lalu yg paling luas hutan yg terbakar ya, sampe 1 jutaan hektar, subhanallah pantesan asapnya mengganggu kali yaa... dampak kebakaran hutan salah satunya penyakit ISPA, smeoga ke depannya jangan ada hutan yang terbakar lg yaa. Thanks artikelnya ya Fie... sukses selaluuu... ^^

    ReplyDelete
  3. Paling sebel kalo kejadian kebakaran hutan akibat pembukaan lahan baru demi cuan semata. Mereka egois banget karena mengorbankan banyak hal yang menyangkut hidup orang banyak.
    Apalagi dampak panjangnya pasti berakibat pada bumi secara keseluruhan.

    ReplyDelete
  4. Kalau udah bicara kebakaran hutan tuh, nyeseknya masih terasa. Tahun 2019 kemarin sampe pengen pindah dari Pekanbaru karena susah bernafas. Karenanya setuju banget dengan campaign ini, karhutla itu wajib dicegah

    ReplyDelete
  5. Salah satu kejahatan sistemik di muka bumi ini adalah peristiwa karhutla. Gak cuma sekedar membunuh, tapi juga merusak semia ekosistem dan keseimbangan yang ada di bumi untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja.
    Nice artikel bang

    ReplyDelete
  6. Dampaknya ngeri bang Alfie. Dikit-dikit sih sudah mulai menerapkan tipsnya mungkin penggunaan kendaraan bermotor masih ya :)

    ReplyDelete