Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aku Jatuh Cinta Pada Pulau Natuna

Batu Alif dan Gunung Ranai di Pulau Natuna www.bocahudik.com

Pulau Natuna merupakan daerah terluar Indonesia di sebelah utara. Berdekatan dengan beberapa negara di Asia. Pulau yang saya impikan untuk dikunjungi sejak mendengar namanya pada tahun 2016. Pasalnya di Pulau Natuna memiliki lokasi wisata yang sangat Indah.

Selang beberapa tahun, Alhamdulillah saya bisa ke Natuna pada awal bulan Juli, bulan ini. Saya menggunakan kapal Ro-Ro KM Bahtera Nusantara 01 untuk ke Pulau Natuna. Selain menggunakan kapal Ro-Ro, Natuna bisa dijangkau dengan kapal Pelni dan pesawat. Namun, semua transportasi tersebut tidak beroperasi setiap hari.

Tujuan saya ke Pulau Natuna adalah liburan. Tapi karena saya seorang jurnalis dan suka mengambil video, jadi saya memutuskan untuk liburan sambil bekerja. Lumayan toh liburan yang menghasilkan uang. Jadi saya memutuskan untuk bawa perlengkapan seperti kamera dan laptop.

Tiba di Natuna, saya merasa nyaman dan senang. Maklum, impian 5 tahun lalu, bisa terwujud saat ini. Lokasi wisata pertama yang saya kunjungi adalah Taman Wisata Batu Alif, Natuna. Tapi tunggu, saya tidak mau membahas tempat wisata di Natuna terlebih dahulu, melainkan tujuan saya untuk pindah ke Natuna.

Pulau Natuna memiliki luas 264.198 km2. Dengan jumlah penduduk sekitar 76.192 jiwa yang terdiri dari multi etnis. Tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan kota Batam. Namun Pulau Natuna mampu menghipnotis saya saat tiba di sana.

Masyarakat di Pulau Natuna sangat ramah dan baik. Saya tinggal di Natuna merasa seperti tinggal di kampung saya. Maksudnya kampung pada saat saya berusia 6 tahunan gitu. Sepi dan tenang. Tidak ada polusi.

Saya disambut dengan baik oleh mereka. Bahkan ada beberapa masyarakat yang menawarkan saya untuk tinggal di rumah mereka. Namun saat itu, saya sudah tinggal bersama teman saya di Natuna. Bang Rony, namanya.

Setiap Bang Ronny mengajak ke rumah kerabatnya di Natuna, mereka sangat antusias. Sambutan mereka kepada saya terasa hangat sekali. Seperti sudah kenal lama, padahal saya hanya pendatang di Natuna. Tamu atau pengunjung, begitulah.

Beberapa hari tinggal di Natuna, saya sudah memiliki beberapa teman. Mereka baik sekali. Mengajak saya keliling pulau tersebut. Bahkan selalu traktir makanan saya.

Di Pulau Natuna tidak ada angkutan umum. Jadi, kalau mau keliling Natuna harus menyewa ojek. Bukan ojek online, tapi ojek pangkalan. Atau bisa juga sewa motor dengan harga Rp70 ribu per hari.

Makanan di Pulau Natuna sebagian besar berasal dari hasil laut. Ya, karena Natuna dikelilingi oleh lautan. Hasil buminya diimpor dari daerah lain. Sedikit mahal sih.

Saya sudah merasa nyaman di Natuna. Disana tidak ada mall atau swalayan seperti Indomaret dan Alfamart. Hanya ada beberapa swalayan daerah saja. Signal disana sudah lumayan kencang, tidak seperti beberapa tahun lalu.

Inilah Penyebab Saya Jatuh Cinta Pada Pulau Natuna

Saat saya berada di sebuah acara yang dihadiri oleh Gubernur Kepulauan Riau, saya melihat seorang Bhabinkamtibmas. Beliau menarik perhatian saya. Seorang polisi yang mengendarai becak dengan membawa banyak buku di belakangnya. Mudiyanto, namanya.

"Pak, itu perpustakaan keliling punya bapak?" kata saya.

"Iya. Ada bantuan juga. Mereka selalu baca. Kadang tidak di sini saja. Di beberapa sekolah dan bahkan di rumah saya." katanya.

Bagi saya, beliau merupakan pahlawan untuk anak-anak di Pulau Natuna. Betapa tidak, saat para pelajar istirahat, beliau hadir untuk meminjamkan buku-bukunya. Dan itu dilakukan secara gratis.

Aksi sosialnya itu dilakukan tanpa ada sangkut pautnya dengan profesinya. Murni karena untuk sosial. Tugas mulia tersebut dilakukan saat beliau lepas tugas atau waktu senggang.

Saya pun berpikir sejenak. Profesi saya sebagai jurnalis tidak selalu 24 jam, ada waktu senggang. Jadi, kenapa tidak saya melakukan hal yang sama dengan Bhabinkamtibmas tersebut.

Kemudian saya memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Saya ingin mengajar anak-anak di Natuna sambil menjadi seorang jurnalis.

"Apa yang bisa saya ajarkan?" tanyaku dalam hati.

Saya kuliah jurusan Sastra Inggris. Bukan berarti saya lancar berbahasa inggris, bukan. Tapi saya harus berbagi ilmu yang saya miliki agar tidak hilang. Menjadi pengajar bisa sambil belajar dan menambah ilmu baru, bukan?

Pelajar di Pulau Natuna www.bocahudik.com


Saya berniat untuk mengajar bahasa Inggris pada murid SD, SMP, atau anak yang kurang mampu sekali pun. Pulau Natuna berbatasan dengan beberapa negara di Asia. Jadi, mereka harus bisa berbicara bahasa Inggris. Ya, setidaknya paham dalam mengucap "How are you?".

Selain bahasa Inggris, kalau mereka mau belajar buat blog, ya boleh saja. Mana tahu ada yang suka nulis di blog. Saya bersedia untuk mengajari mereka.

Saya tidak merasa pintar, melainkan masih bodoh. Tapi dengan berbagi, bukankah itu semua akan menjadi ilmu yang baik dan ilmu tersebut akan bertambah?

Jatuh cinta pada Pulau Natuna bukan karena wisatanya. Lucu sih. Tapi itulah kenyataannya. Saya jatuh cinta karena melihat sosok pahlawan yang mampu membangun Natuna. Mungkin tempat wisatanya itu hanya bonus. Begitu pula dengan masyarakatnya, kalau kita baik, ya mereka akan ramah.


Tuhan Mendengar Niat Baik

Niat saya pun bersambut baik. Teman-teman saya di Natuna mendukungnya. Bahkan kantor saya menawarkan untuk pindah ke Natuna. Bak gayung bersambut, saya mengiyakan tawaran tersebut.

"Kalau pindah ke Natuna mau tak?," kata pimpinan melalui telepon.

Saya disuruh kembali ke Batam terlebih dahulu. Setelah semua clear, saya bisa ke Natuna. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Batam.

Nantinya, kalau pun kantor tidak mengijinkan saya pindah ke Natuna, saya tetap harus ke Natuna. Saya akan tinggal disana dan menjalankan niat saya tersebut. Mengabdi untuk negeri.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

5 comments for "Aku Jatuh Cinta Pada Pulau Natuna"

  1. Abang tamatan sastra inggris? Wah asli baru tau lah, btw semoga lancar ya bang program Pengabdian di Natuna, semoga bisa ke sana juga suatu saat, menikmati indahnya Natuna

    ReplyDelete
  2. Masyaallah tabarakallah niat mulia pasti akan diijabah ya Alfie... keren banget sih cita-citanya... mengabdi untuk negeri ya, di pulau terluar Indonesia, pulau Natuna ya. Btw cb searching mengenai beasiswa utk daerah 3T, mana tau Alfie bs lulus beasiswa S2 dari Natuna/ Batam

    ReplyDelete
  3. Wah pulau Natuna ni salah satu tempat yang mau saya kunjungi waktu tinggal di Batam bang, tapi sayangnya gak lama saya di sana. Oiya mudah2an bisa terkabul ya bang kerja di sana, asik juga tuh liburan sambil kerja :)

    ReplyDelete
  4. Masya Allah. Natuna
    Emang keren ya. Pas masih kost S1 lalu. Ibu kost sering cerita tentang ramah-tamah dan keindahan Pulau Natuna, serta banyak hal lain tentang Natuna.

    Semoga suatu saat bisa ngunjungi Natuna. Liburan sekaligus belajar.


    Semoga cita-cita Bg Alfi tercapai. Bisa berbagi ilmu dan cerita buat masyarakat di sana. Mana tau beberapa saat Weni bisa ikut pengabdian di sana. Paling nggak ngasih tau penulisan "di sana vs disana" mana yang bener. Hehe.

    ReplyDelete
  5. Kalau gk salah Kawasan laut natuna sampai saat ini menjadi sumber konflik antara kedaulatan Indonesia dengan China ya bg?? Sayang kli klo laut natuna di ambil org asing ya 😔 diliat dri pulaunya aja indahnya minta ampun..

    ReplyDelete